Ketahanan Masyarakat Indonesia

Foto : dr. Zul Asdi, Sp.B., M.Kes Ketua IDI Riau

PEKANBARU, seputarriau.co  - Benarkah orang miskin menularkan penyakit kepada orang kaya?
Sebuah pernyataan atau pertanyaan yang memicu perdebatan.
Saya punya_asisten rumah tangga dari desa, karena masalah ekonomilah dia pergi ke kota untuk mencari nafkah. Kami menyebutnya "wonder woman", karena jarang sekali sakit, bila serumah terkena flu, satu-satunya yang tetap sehat, ya si wonder woman itu. Adakalanya anak pernah dirawat di rumah sakit, sementara bapak dan ibunya bekerja, dialah andalan mengawal. Sangat dibutuhkan dan dihargai bantuannya di rumah. Alhamdulilah dia tidak membuat orang sakit.

Memang anjuran hidup bersih dan sehat harus terus didengungkan, untuk mencegah penyakit, namun bersahabat dengan alam adalah imunitas yang baik. Anak-anak kampung, biasa saja mandi di sungai, bermain lumpur sawah, memanjat pohon jambu yang lansung di makan.
Anak-anak kampung, kalau pulang ke rumah bukan hanya bau keringat tapi juga penuh kotoran bercak tanah.

Dalam batas- batas tertentu, asal tidak berlebihan sampai menimbulkan penyakit, bermain dengan alam itu secara tidak lansung membentuk kekebalan alami.
Mereka lebih punya daya tahan, dibanding anak-anak yang terlalu dibatasi dengan alam. Ada beberapa kisah "anak mahal" dari kalangan orang berada, saking takutnya akan infeksi, anaknya di batasi bertemu orang lain, tidak boleh disentuh, hal ini malah  membuat sang anak lemah dan mudah sakit. Alam sudah mengatur keseimbangannya, tidaklah tepat orang miskin menularkan penyakit pada orang kaya. Orang kaya yang sehat dan pandai menjaga kesehatan juga banyak, apalagi dengan informasi tentang kesehatan sekarang ada di mana mana. Dikotomi ini jelas keliru.

Cerita beralih pada kekuatan rakyat indonesia, dimulai dari tenaga kesehatan di indonesia.
Pada waktu wabah cacar menyerang, awalnya pemerintah Belanda bingung, tenaga kerja mereka banyak yang jadi korban, sementara selama ini pelayanan medis di utamakan untuk orang Belanda. Dari sini dibentuklah mantri cacar dari orang Indonesia, Belanda takut masuk ke wilayah cacar, mengandalkan tenaga kesehatan indonesia. Begitu juga sewaktu wabah pes melanda indonesia, dr cipto mangunkusumo maju untuk bergerak melawan wabah pes itu. Dari sini lahirlah dokter-dokter Indonesia, dr wahidin, budi otomo dan kebangkitan bangsa, sampai saat sekarang.

Disini tampak bahwa daya tahan dokter Indonesia itu berawal dari jiwa pengorbanan untuk masyarakat Indonesia. Namun dalam sejarah di catat bahwa perjuangan dr cipto itu didukung semua pihak, perbedaan dihentikan dulu. Menurut cerita orang tua tua, sewaktu penjajahan Jepang yang penuh penderitaan, semua beras dan makanan dikumpulkan untuk diserahkan kepada tentara Jepang, memang banyak korban dari pejuang dan masyarakat Indonesia, namun rakyat Indonesia selalu punya cara untuk bertahan hidup, ada saja alternatif pangan yang diupayakan, malah kepedulian sosial makin meningkat, waktu itu kebiasaan berbagi dan hantar mengantar makanan antar keluarga, tetangga dan teman jadi budaya.
  
Sewaktu kecil, penulis senang sekali bila liburan pulang kampung (desa). Permainan kami adalah permainan anak kampung, seperti anak-anak kampung lainnya. Namun bila diingat-ingat ada yang menarik, yaitu kekuatan ekonomi masyarakat di kampung.

Banyak yang pelihara sapi dan kambing, makanannya tidak usah beli, cukup dari rumput yang banyak tumbuh liar, ayam dan itik dilepas saja. Kita dapat susu tiap pagi, mencari telur adalah permainan yang mengasikkan, dan anak anak berebut minta segera  di buat dadar .Protein ikan banyak sekali, ada berbagai jenis ikan, mau dari kolam atau dari sungai, belut, kerang, segar-segar, sehat-sehat dan berprotein tinggi.
Sayuran? Jangan di tanya, berbagai jenis sayur tumbuh di sekitar rumah, didekat persawahan, tepi sungai dan bukit, tinggal ambil, gratis.
Buah-buahan apalagi, Indonesia harus bersyukur atas berbagai macam jenis buah buahan yang ada. Sewaktu kecil di kampung tinggal panjat pohonnya, lansung dimakan di pohon. Apalagi pada waktu hari pasar, semua jenis buah-buahan dan sayuran keluar, sampai sampai tidak tahu namanya karena baru pertama kali melihatnya.

Dalam bidang perdagangan, ada yg di sebut hari pasar, di tiap-tiap desa beda-beda harinya, Di pasar itu transaksi berjalan lancar, terkadang barter tanpa memakai uang, jadi mau dolar berapapun rupiah berapa pun, tidak berpengaruh pada mereka, dan bila sudah mulai sore pedagang pulang, sisa sayuran dan buah buahan biasa di bagikan sama anak-anak.


Anak-anak berebutan. 
Ada cerita tentang, tukang sate yang gerobaknya terbakar dan membakar hangus semua isinya. Namun hebatnya dalam beberapa hari tukang sate itu jualan kembali, ya ini karena jiwa persaudaraan dan tolong menolong yang tinggi, ada yang pinjamkan hutang daging, ada yg memberi hutang bahan bahan sate, daun dan lainnya. Tidak heran tukang sate segera eksis lagi, ekonomi seperti ini tidak bisa mati, bagaimana pun gejolak resesi dunia.

Sayang sekali masyarakat Indonesia tidak memamfaatkan sebesar besarnya potensi alami indonesia yg kayà raya. Masyarakat indonesia sekarang tergiring kepada pola masyakat internasional, mulai dari makanan "junk food" yang membuat sakit, bangga dengan makanan asing (sekali-kali yang sifatnya rekreasi bisa di terima) padahal variasi makanan sehat indonesia sangat banyak ragamnya, lagi sehat.
Tidak salah eropa ratusan tahun mengambil rempah ke Indonesia, sementara masyarakat Indonesia sekarang diarahkan pada makanan asing, kenapa. Di mal, jarang sekali ada gerai makanan Indonesia?
_Eh_ ada ,namun kurang laku, dan letaknya di sudut-sudut, yang mewah besar dan ramai ,ya itu makanan asing. Globalisasi merambah dunia katanya, kalau tidak ikut arus globalisasi akan ke tinggalan? Tidak juga sebenarnya, banyak negara tetap dalam integritas kebangsaannya namun maju dalam teknologi dan modrenisasi.

Bila dilihat di luar negri mulai ada chaos, berebut makanan di mal, semoga tidak terjadi di Indonesia.
Karena masyarakat Indonesia aslinya saling peduli dan punya landasan agama yang kuat.

Semoga semua masyarakat Indonesia bersatu padu dalam upaya melawan Covid-19 ini , dengan melibatkan kekuatan masyarakat sendiri. Seperti yang sudah dicontohkan para pendahulu kita.
Berdoa dan berupaya untuk kesehatan kita semua.
Lebih baik lagi dalam skala kecil tiap rumah tangga memanfaatkan lahannya untuk menanam sayur buah dan rempah, menghemat belanja dan mengurangi ketergantungan kepada impor, termasuk tanaman obat
InsyaAllah doa kita semua di kabulkan Allah SWT ,Tuhan yang maha kuasa
Amin

dr. Zul Asdi, Sp.B., M.Kes
Ketua IDI Riau


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar