Anggota Satreskrim Polres Asahan Di duga Tidak Paham  Perkap 1 Tahun 2009

ASAHAN, seputarriau.co  - Keluarga WF Menduga unit Reskrim Polres Asahan tidak memahami Perkap 1 tahun 2009 dan melakukan pelanggaran HAM ( Hak Asasi Manusia) setelah Melakukanan penembakan terhadap WF warga Gunting Saga tersangka pelaku  cabul di Titi kembar Aek ledong kabupaten Asahan pada 12/2/2019 lalu.

 

anggota Kepolisian Resort (Polres) Asahan diduga melakukan penembakan kedua kaki Wanda Firnanda (WF) tidak sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur).

Saat di temui awak media pada tanggal (19/2/2019) Sarmidah Marpaung (47) Ibu Kandung dari pada WF didampingi Kuasa Hukum LBH BRI Labuhanbatu, dirinya mengatakan bahwa anaknya telah dilaporkan dengan tuduhan perbuatan asusila dan pencurian sehingga Polisi melakukan penangkapan dirumah pamannya.

Pada saat anggota Polisi  Polres Asahan melakukan penangkapan terhadap WF, WF tidak ada melakukan perlawanan atau melarikan diri, saat dilakukan penagkapan terhadap pelaku, Kemudian polisi langsung memborgol WF dan membawanya kedalam mobil.

Tetapi kenapa setelah sampai di kantor polisi kedua kaki anak saya sudah tertembak”,Jelas ibu  Sarmidah sembari  meneteskan air mata.

dari pengakuan WF (anaknya) saat dibesuk, kalau anaknya dikeluarkan dari mobil dan dibawa ke sebuah tempat yang tidak diketahui lokasinya karena mata ditutup dan mulut disumpal. Lalu disuruh tiarap dan kedua kakinya dipijak dengan tangan di borgol, setelah itu baru ditembak dibagian betis kaki kiri dan kanan.“Itu hasil percakapan saya dengan anak saya waktu saya membesuknya didalam tahanan Polres Asahan”, jelas Sarmida lagi.

Terkait apa yang dituduhkan kepada WF (perbuatan asusila), menurut Sarmida Marpaung, itu tidak benar. “Kalau anak saya WF tidak memaksa korban untuk melakukan hubungan asusila, 

"lalu kenapa anak saya dibilang pemerkosaan seperti yang di tuduhkan padanya. Sebelumnya antara mereka (WF dan teman wanitanya) sudah ada percakapan dan perjanjian bertemu melalui Handphone di salah satu tempat dekat Palang Titi Kembar yang ada di daerah Aek Ledong Kecamatan Aek Kuasan Kabupaten Asahan.

" Dalam pembicaraan itu, teman wanitanya ingin meminjam uang kepada WF sebesar Rp.12 Juta, tapi WF mengatakan hanya sanggup memberi Rp.8 Juta”, tuturnya.

"Lanjut Sarmida, setelah mereka bertemu, mereka lalu pergi ke perkebunan sawit yang ada di daerah tersebut. Dan tanpa paksaan diduga mereka melakukan perbuatan asusila.

“Usai mereka melakukan dugaan asusila, teman wanitanya lalu meminta uang yang dijanjikan WF. Namun WF bilang tidak ada. Selanjutnya teman wanitanya (korban) meminta Rp.200.000, itupun tidak disanggupi WF, akhirnya mereka bertengkar dan WF pun marah lalu kepala korban dijedotkan ke pohon sawit dan memukulinya menggunakan pelepah sawit”, ucap ibu WF.

Hal senada juga dibenarkan Elviani (38) Bibi WF dan Rianto (40) paman WF membenarkan saat penangkapan WF tidak ada melakukan perlawan atau hendak melarikan diri.

“Pada saat WF di tangkap oleh polisi, WF ada di rumah kami. Waktu itu saya tanya, dari mana pak ? mereka menjawab dari Polres Asahan dan WF langsung di tangkap dan dimasukkan kedalam salah satu mobil, saat penangkapan yang datang dua mobil”, kata bibi WF.

Ditempat yang sama, Team kuasa Hukum dari WR LBH BRI Labuhanabtu melaui ketua Bidang Hukum Pidana Edy Wansyah Pane SH, juga mengatakan kalau kliennya tidak mungkin melarikan diri pada saat di tangkap karena tangannya di borgol dan dimasukkan kedalam mobil tertutup.

“Tidak memungkinkan WF berusaha melompat dari mobil saat diperjalanan. Untu itu, kalau tidak ada kendala dan perubahan kami pastikan akan meminta klarafikasi dari pihak Polres Asahan”, ungkapnya.

Di tempat terpisah, Ketua Lembaga Bantuan Hukum Bela Rakyat Indonesia (LBH – BRI) Labuhanbatu Halomoan Panjaitan SH. Menambahkan, pada saat penandatanganan surat kuasa di Polres Asahan, bahwa kliennya tersangka WF dalam surat perintah penangkapan dan penahanan, dia dikatakan sebagai percobaan pembunuhan, pemerkosaan sekaligus pencurian.

“Kalau kita lihat dari penagkapan

Kalau kita lihat dari penagkapan itu dan surat penahanannya ada tiga kesalahan sekaligus. Menurut saya itu sangat janggal dan itu diluar logika saya sebagai praktisi hukum atau advokat dan kami sebagai penegak hukum merasa ada kejanggalan. Kemudian kondisi klien kami menurut penyidik pembantu di Polres Asahan kondisinya Upnormal, kurang pendengaran daan berbicara kurang jelas (gagu). Hanya orang-orang khusus yang dapat berkomunikasi dengan klien kami, seperti ibu kandungnya”, jelas Halomoan.

Sementara itu, Kasat Reskrim Polres Asahan AKP Ricky Pripurna Admaja SIK pada saat dikonfirmasi di ruangan kerjanya terkait penembakan kedua kaki tersangka WF oleh anggotanya, Selasa 19/02/2019 mengatakan,

 

" saat melakukan penembakan pasti ada alasannya dengan penggunaan kekuatan yang dilindungi Perkap 1 tahun 2009 setiap penggunaan kekuatan yang kita lakukan pasti ada skalasinya”, jelas Kasat. (PH)


Dari keterangan Kasatreskrim beberapa pihak menilai bahwa penggunaan perjanjian 1 tahun 2009 tidak sesuai dan melanggar peraturan yang ditetapkan karena di dalam Perkap tertera dengan pengetian polisi bisa menggunakan kekuatan apabila tersangka melakukan perlawanan, sementara WF sedikitpun tidak melawan apalagi melarikan diri.

 (R/ ST)


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar