Irama Ngaji Syekh Rasyid Sama Dengan 15 Imam Besar Dunia

PEKANBARU, Seputarriau.co - Hafiz Qur'an dari riau itu bernama Syekh Rasyid, umurnya baru   8 tahun tahun ini. Namun diusia bocahnya, anakku sudah menyimpan banyak kelebihan.  Syekh Rasyid adalah seorang hafiz quran. Ia mampu membaca dan menghafal al quran, serta menyetarai 15 irama imam besar dunia.  ia menguasai bahasa arab tanpa dipandu seorang guru. Ajaib, anakku memperoleh kelebihan-kelebihan itu secara otodidak. Sesuatu yang tidak pernah kuduga bahwa suatu saat kelak aku akan memiliki anak luar biasa seperti Rasyid.kata Yulia orang tua Syekh Rasyid

Berbagai kelebihan itu membuat Syekh Ali  Abbasy, imam besar mesjid Aqsha, Mekkah memberikan gelar syekh kepada anakku. Dan dalam kesehariannya, Rasyid lebih suka dipanggil Syekh Rasyid. Syekh Ali Jabeer, imam mesjid Nabawi Mekkah juga memuji kelebihan-kelebihan yang dipunya Rasyid. “Subhanallah, umat Islam di Indonesia dan dunia wajib bangga memiliki anak seperti dai Rasyid.”

Rasyid  kecil tidak mau sekolah di sekolah-sekolah biasa yang menerapkan mata pelajaran umum. Sekolah umum pun sulit menerimanya, karena Rasyid hanya berminat pada pelajaran agama. Dan hanya SD Al Kindy yang terletak di jalan Bukit Barisan yang bersedia menampungnya.

Sejak peristiwa sakitnya Rasyid, karena dijauhkan dari Al-qur'an, ibunda Rasyid benar-benar berusaha menjaga dan menuruti segala sesuatu yang dicintai anaknya. Ia takut peristiwa serupa akan terjadi lagi pada anak yang ia cintai.

Pada suatu malam, usai melakukan aktifitas ibadahnya, Syekh Rasyid tertidur dengan pulas, wajah polosnya begitu tenang dan damai. Nafasnya begitu lembut serupa dengan kelembutan hatinya dihadapan sang maha pencipta. Esok harinya ia terbangun dan nampak seperti berusaha mengingat sesuatu yang baru saja dialaminya saat tidur.

Pagi itu usia Rasyid belum genap 3 tahun, iapun menceritakan sebuah kisah yang membuat terbelalak matanya, dan pastinya siapapun yang mendengar tidaklah percaya, termasuk ibundanya sendiri. Bagi ibunya kisah itu benar-benar baru ia dengar dan belum ia ketahui sebelumnya. Usai salat subuh, Rasyid mendekatinya dan berbisik "bunda," bisiknya sambil memeluk Yulia dengan erat. Mata bocah kecil itu menatap kedua mata ibundanya seperti ingin memahami perasaan ibu yang telah melahirkannya.

"Semalam Rasyid bermimpi bertemu Rasulullah, beliau menyuruhku untuk menunaikan ibadah haji. Rasyid disuruh untuk umroh, Sa'i dan mencium hajar aswad bunda," cerita Rasyid tentang mimpi yang dialaminya. Yulia terkesiap, ia seperti mendengar cerita dari orang yang sedang mengigau dalam tidurnya. Ia menatap anaknya "Apa kau cakap tadi nak," tanya Yulia.

Yulia dengan cucuran air mata menatap penuh penasaran kearah wajah anaknya, dan sesekali bengong merasa tidak percaya dengan kata-kata anakanya. "Sebenarnya engkau ini siapa sih nak," tanya Yulia dalam hati sambil memeluk erat anaknya.

"Rasyid ingin menunaikan ibadah haji bunda, antarkan rasyid ketanah suci bunda," ucap Rasyid memecah lamunan Yulia. Sambil terus merengek air mata mereka berdua terus bercucuran. Yulia pun tiba-tiba dikagetkan dengan suara Rasyid yang semakin terasa parau dengan wajah memelas.

Tiba-tiba mulut mungil tersebut dengan fasih berucap "Labbaik Allah Huma Labbaik, Labbaik La Syarika Laka Labaik. Innal Hamda Wa-ni'mata Laka walmuk Laa sharika Lak," (ya allah aku memenuhi panggilamu. Ya allah aku memenuhi panggilanmu, aku memenuhi panggilanmu, tiada sekutu bagimu, begitu juga seluruh kerajaan, tiada sekutu bagimu).

Rasyid tiba-tiba menangis keras sesunggukan. Ia menangis sambil terus melafalkan talbiah dalam pelukan sang bunda. Yulia bertambah gemetar "Ya allah tak pernah-pernahnya anaku memeluk seperti ini, ada apa sebenarnya ya allah," gumam Yulia.

Sungguh tangisan Rasyid telah menyayat hatinya. Tidak pernah ia merasakan kesedihan dan permintaan Rasyid. Tak terbayang oleh Yulia berada di kota suci Makkah, sebagai seorang muslim Yulia juga ingin memenuhi panggilanya. "Sabar ya nak, bunda pun ingin sekali kesana, insya allah bunda akan berusaha memenuhi keinginanmu nak, Rasyid berdoa saja sama allah ya," hibur Yulia sambil mengusap air mata anaknya.

Rasyid memandang wajah bundanya, tak tergambarkan kebahagian yang terpancar dari matanya. "Makasih bunda.., makasih bunda," ucap Rasyid berulang-ulang.

Setelah mendapat jawaban sang bunda, hari-hari Rasyid berubah 90 derajat. Dimana ia selalu meluangkan waktu sehabis pulang sekolah untuk berlatih manasik haji dirumah tanpa bimbingan siapapun, bahkan ibunda saat itu tidak mengerti tata cara berhaji dengan baik dan benar.

Sebagai seorang batita, perjalanan dan pengalaman spiritualnya sungguhlah menakjubkan. Diusia sekecil ini ia seperti sudah merasakan kehidupan relegius yang begitu matang. Perilakunya yang islami, keinginananya menjadi imam Masjidil Haram, mimpinya untuk membangun masjid, dan menunaikan ibadah haji adalah keinginan yang tidak lazim dimiliki oleh anak seusianya.
(MN)
 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar