Problematika UNBK Di Sekolah

Desy Angriani, S.Pd.

Oleh: Desy Angriani,S.Pd.

Kebijakan UN dituangkan dalam Permendikbud Nomor 3  Tahun 2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan. Dalam Permendikbud ini ditegaskan bahwa kelulusan peserta didik ditentukan oleh satuan pendidikan atau sekolah setelah peserta didik menyelesaikan seluruh  program pembelajaran memperoleh nilai sikap/perilaku minimal baik dan lulus Ujian Sekolah/Madrasah/Pendidikan Keseteraan (S/M/PK).

Penyelenggaraan UN  biasanya menyerap anggaran biaya milyaran rupiah untuk pelaksanaan di tingkat Nasional, belum lagi biaya di tingkat provinsi, kabupaten/kota, sekolah, dan orangtua peserta didik.  Dengan biaya yang relatif besar ini tentunya harus menghasilkan manfaat yang besar pula bagi kemajuan  dunia pendidikan Indonesia, bukan sebaliknya malah menjadi beban bagi peserta didik, orangtua, dan sekolah.

Dengan Alasan tersebut kemudian tahun 2015 yang lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan mulai menyelenggarakan UN yang berbasis komputer atau UNBK. Pada kenyataannya, dunia pendidikan di Indonesia dilanda permasalahan, khususnya dalam pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Ujian nasional merupakan syarat kelulusan bagi siswa jenjang akhir di setiap tingkat baik, SD, SMP, dan SMA.

UNBK merupakan formulasi baru di tiga tahun terakhir yang sebelum ujian nasional menggunakan kertas. Dengan adanya UNBK ini tentunya, mempermudah siswa dalam mengerjakan soal ujian.

Berdasarkan data dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), sekolah yang terdaftar sebagai peserta UNBK pada tahun 2017 sebanyak 30.577 sekolah. Sedangkan data sampai 7 Maret 2018, sudah ada 59.602 sekolah yang terdaftar mengikuti UNBK. Dari data tersebut bahwa jumlah sekolah yang menerapkan UNBK terus mengalami peningkatan. Pasalnya, yang menjadi pertanyaan apakah pelaksanaan UNBK sudah efektif dan efisien seperti yang diharapkan pemerintah?

Selama pelaksanaan UNBK ada bebrapa permasalahan yang muncul, 

1. Gangguan server

Server merupakan alat utama yang diperlukan dalam penyambungan jaringan internet untuk pelaksanaan UNBK. Apabila Koneksi internet terputus akibat server bermasalah akan menjadi kendala utama pelaksanaan UNBK disekolah. 

2. Komputer yang tidak mencukupi

Dalam proses UNBK, komputer merupakan sarana penunjang dalam pelaksanaanya. Jika kurangnya komputer mengakibatkan proses UNBK tidak berjalan lancar seutuhnya dikarenakan siswa harus mengantri lebih lama untuk mendapatkan giliran ujian. 

3. Pemadaman Listrik

Pemadaman listrik juga momok yang menakutkan dalam pelaksanaan UNBK. Bagaimana tidak, Pada tahun 2019 semakin banyak sekolah yang menyelenggarakan UNBK, baik jenjangSMP/MTs maupun SMA. Sehingga semakin besar pula pasokan daya yang diperlukan dalam pelaksanaannya.

4. Keterbatasan Sarana

Dalam menyambut UNBK, ada banyak peralatan yang harus disiapkan dari komputer sampai server dan laboratorium. Pengadaan alat-alat pendukung UNBK ini harus disiasati, mengingat semua alatnya mahal-mahal. Sementara sekolah masih banyak yang belum memiliki fasilitas tersebut.

Kebijakan pemerintah yang mengharuskan seluruh sekolah mengikuti UNBK, membuat sekolah kocar kacir mencari pinjaman komputer atau pun laptop untuk mencukupi kekurangan komputer disekolah. Mulai dari meminjaman ke sekolah lain dan meminjam kepada siswa untuk mencukupi kekurangan tersebut. 

Tidak sedikit sekolah di pelosok yang tidak mempunyai sarana dan prasarana yang lengkap menumpang ke  sekolah yang sarana prasana nya  lebih lengkap untuk melaksanakan UNBK. Mungkin ada baiknya pemerintah mendata dulu, sekolah mana yang pantas UNBK dan sekolah mana yang belum pantas mengadakan UNBK. Dengan begitu, pemerintah dapat berupaya untuk pengadaan alat-alat pendukung UNBK bagi sekolah yang membutuhkan, sehingga tidak ada lagi sekolah yang menumpang di sekolah lain.

Memang bagi sekolah yang tidak memiliki sarana dan prasarana untuk menyelenggarakan UNBK dapat bergabung disekolah lain, namun perlu biaya yang juga relatif banyak untuk transportasi, akomodasi, konsumsi dan sebagainya bagi peserta dan guru pendamping UNBK.

Problematika dalam penyelenggaraan UNBK diharapkan dapat menjadi evaluasi bagi upaya memperbaiki penyelenggaraan UNBK ke depan, sehingga mutu pendidikan Indonesia akan semakin lebih baik lagi melalui proses penilaian pendidikan yang akurat dan terukur baik, seperti melalui UNBK tersebut.

Penulis

DESY ANGRIANI,S.Pd Guru IPA Di SMP Negeri 14 Dumai.

 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar