Cerpen: Perginya Setitik Sinar Karya Gunawan.R

Ilustrasi

 

Kota Dumai siang itu cukup panas dan membuat keringat bercucuran di badan.Ditambah lagi musim kemarau yang panjang semuanya menjadi rumit.Sebagian masyarakat antri membeli satu jerigen air minum karena persedian air di rumah mereka telah habis.Debu-debu beterbangan ditambah lagi asap kendaraan yang menghiasi sebagian jalan-jalan di kota ini.

“ Menurut perkiraanku malam nanti kemungkinan hujan zul. “

“ Kau ni macam dukun saja.”

“Iyalah lain panasnya hari ini, membakar kulit terasa di dalam api”

“Oh ya zul, bagaimana menurut kau tentang anak pak karim tu, kalau menurut akulah si Saleha bagus orangnya.”

“ Kau menilai dari apanya Man, kita jangan menilai seseorang dari zahirnya saja.kau mesti ingat Herman.Aku tak mahu salah pilih nanti merana hidup selamanya.ini soal hidup Herman.”

“ Iyalah aku tahu masalah yang kau pikirkan.”

“ Lalu…”

“ Terserah engkau zul,aku hanya beri pendapat saja.”

“ok, aku terima pendapatmu sering-seringlah beri pendapat kepadaku ya Man.”

“ He..he..he..he. “ Mereka ketawa berdua

Azan berkumandang di setiap sudut kota petanda memanggil hamba tuhan untuk sujud.Setelah menunaikan kewajiban sebagian masyarakat berkumpul dengan keluarga,dan membuka kembali toko-toko mereka.Langit ditaburi bintang yang menyinar dan ditemani cahaya bulan.ditambah lagi dengan panasnya cuaca pada malam hari.Hingga sebagian masyarakat mengidupkan kipas angin sampai pagi.Suara jengkerik bersahutan di sekitar rumah Zul yang tak jauh dari kota.Suara jengkerik apabila malam cukup membuat telinga menjadi “muak” mendengarnya.Kemungkinan jengkerik-jengkerik itu ingin menceritakan perkara yang penting kepada Zul bahwasanya si Saleha esok pagi akan berangkat ke Malaka mengantar ayahnya untuk berobat.Zul dan Saleha baru 2 bulan berkenalan itupun berpapasan ketika ada acara kenduri tetangga.Saleha baru saja pindah ke Dumai setelah selama ini menetap di Batam dan besar di sana.Dalam hati Saleha ada secebis harapan kepada Zul untuk dicurahkan tapi bagaimana apa daya diapun perempuan yang harus menjaga marwah diri.Sebagai perempuan Melayu adat harus dijunjung dimananapun berada.

Matahari pagi itu ditutupi asap tebal hingga pancaran cahayanya terhambat dengan tebalnya kabut.Kebakaran hutan di sepanjang kampung tetangga membuat mata pedih dan merambah sampai ke Negeri Semenanjung.

“Zul,ayah Suleha hari ini akan di bawa ke seberang untuk berobat “

“ Pukul berapa berangkatnya? “

“ Pukul 09.00 pagi”

“ Oh ya, kau tak ikut mengantar mereka sampai ke pelabuhan? “

“ Nampaknya aku tak bisa mengantar mereka disebabkan nanti ada yang mesti aku kerjakan Man.”

“ Okelah, kalau begitu.”

“Oh ya, jangan lupa kau sampaikan salamku kepada ayahnya dan si Saleha ya.”

“ Insyaallah”

Pukul menunjukan 08.30 WIB semua peralatan dan barang-barang sudah dikemas yang akan dibawa dalam perjalanan nanti.Saleha masih melihat ke luar jendela menunggu kedatangan Man yang akan mengantarkan barang-barang tersebut sampai ke pelabuhan.Tak lama setelah itu sesosok lelaki berkulit sawo matang datang.

“ Assalamualaikum.”

“ Waa’alaikumsallam, masuklah bang Man.”

“ Tak payahlah, oh ya sudah siap semua.”

“ Sudah bang Man”

“Bawa kemari tas yang besar dan peralatan yang lainnya.”

Setelah selesai semuanya maka berangkatlah mereka ke pelabuhan untuk membeli tiket dan menaikkan barang-barang mereka ke dalam feri.

“ oh ya Suleha, berapa lama di sana“

“ Seminggu saja Bang”

“Oooo..”

“ Oh ya bang, kemana bang Zul tak tampak dari tadi.”

“ Katanya dia ada yang perlu diselesaikan.Dia kirim salam buat ayah dan buat Saleha juga, semoga sampai ke tempat tujuan dengan Selamat.

“ Waa’alaikumsallam, jangan lupa sampaikan salam kami kepada bang Zul”

“ Iyalah kalau begitu”

Tibalah masa akan berangkat dan semua penumpang diharapkan menaiki ferry karena 5 menit harus di dalam.Mereka masuk ke ferry sambil minta doa kepada zul agar mereka sampai ke tempat tujuan.Lantas dijawab dengan kata selamat lagi dari bibir seorang kawan yang bernama Zulkifli seorang anak kapal di pelabuhan rakyat.

***

Sore itu langit mendung ditambah lagi hembusan angin yang menjadi petanda hujan akan turun.Sebagian penduduk menyangka sore ini akan turun hujan maka sebagian dari mereka membersihkan bak-bak dan juga tempat penampung air.Tepat pukul 18.00 langit gelap dan kilat menyambar membuat sebagian pengguna sepeda motor berhenti di toko-toko karena takut dengan kilat ditambah lagi suara petir yang menggelegar.Tak lama Hujan turun dengan derasnya bak menyirami tanaman yang gersang.

Hujan masih berlanjut hingga pukul 20.00 membuat suara muazin di mesjid tidak terdengar lagi dikalahkan dengan suara air hujan yang deras.Sehingga lampu-lampu di rumah penduduk padam dan diliputi kegelapan.Dalam suasana yang sedemikian HP zul berbunyi khas dengan nada deringya lagu dangdut.

“ Siapa pula yang menelpon.” Pikirnya sambil melangkah menuju ruang depan.

“ Man?, ada apa ya”

“ Hallo Zul, halo.hallo “

“ Hallo Man tak terdengar, suaranya kecil sekali.”

“ Hallo, udah dengar.”

“ ok, baru jelas maklumk hujan.”

“ Ada apa Man”

“ Aku harap kau bisa datang ke rumahku sebentar, ada hal yang aku mau beritahu.”

“ Malam ini.”

“Ya malam ini,penting.”

“ Baiklah”

Dalam hujan yang deras itu Zul melangkah dengan mengunakan payung ke rumah Man yang tak jauh dari rumahnya.Hujan makin deras membuat jalan-jalan di sekitar kota menjadi tergenang dan parit-parit tersumbat.Rumah-rumah penduduk sudah terkunci dengan rapatnya dan mereka masuk ke alam mimpinya masing-masing.Akhirnya sampai juga Zul di depan pintu masuk rumah Man yang masih tertutup.Sambil mengetuk pintu rumah tersebut Zul memanggil Man dengan kerasnya karena suara Zul dikalahkan dengan derasnya hujan.

“ Man..Man..Man.” Sambil memanggil

“ Tunggu aku buka.”

“ Oh ya. Masuklah.”

“ Ada apa Man, kau suruh aku kemari malam-malam buta sebegini.”

“ Aku mau menyampaikan sesuatu kepada kau Zul.”

“ Sesuatu apa”

“ Tapi…”

Di luar hujan cukup deras dan ditambah lagi dengan suara petir yang menyambar.Kemungkinan sebagian kotaini akan tergenang oleh air, dan parit-parit akan meluap begitu juga sungai.

“ Tapi apa. sebutlah.”

“ Saleha, Zul!.”

“ Ada apa dengan Saleha,cakaplah.” sambil mengguncangkan badan Man.

“ Ferry yang ditumpangi Saleha terbakar dan tenggelam di selat Malaka sekitar pukul 10.30 pagi tadi Zul.”

“ Apa..kau pasti bohong Man!! Kaubohong!!.”

“ Zul..Zul aku baru diberitahu sama Leman malam ini.”

“ Lantas bagaimana dengan penumpangnya.”

“ Sebagian dari penumpang hilang dan diperkiraan meninggal Zul.”

Hujan masih deras dan suara petir masih menggelegar membuat masyarakat tak berani membuka pintu rumah walau hanya sekedar membuang puntung rokok.Sebagian rumah penduduk tergenang oleh air termasuk rumah Man yang mulai dimasuki air baik dari depan maupun dari seng yang bocor.

“ Aku harap kita sebagai mengenal ayah Saleha dan Saleha kita harus sabar Zul.”

“ Ya, kita harus terima ini semua.”

“ Aku harap kau tidurlah di rumahku sebab di luar hujan masih deras dan petir masih menyambar.Dan kita tunggu informasi selanjutnya besok pagi.” Sambil memegang bahu Zul

“ Baiklah Man.”

***

 

Pagi itu seluruh halaman rumah masyarakat digenangi air dan membuat jalan di sekitar rumah Man menjadi becek.Sebagian batang kayu tumbang dan yang lebih parah lagi hujan malam tadi menganyutkan sandal-sandal hingga mengantarkan sandal itu hanyut ke sungai.

“ Zul, sarapan dulu kita setelah itu baru kita ke pelabuhan.”

“ marilah.”

Belum sempat melangkah HP berbunyi dan tak menunggu waktu lagi Zul langsing mengangkat HP tersebut.

“ Hallo, siapa ini.”

“ Bisa berbicara dengan Saudara Zulkifli.”

“Ya, saya sendiri.”

“ Ini dari kantor perhubungan laut ingin menanyakan kepada anda, apakah anda teman dekat Saleha?.”

“ Ya, saya teman dekatnya.ada apa?”

“ Penumpang yang bernama Saleha ada menitipkan barang katanya untuk Zulkifli sambil meninggalkan nomor Hp kamu agar mudah dihubungi.”

“ Oh ya, saya mau tanya bagaimana dengan kondisi penumpang itu?.”

“ Diperkiraan penumpang semuanya tewas dan barang-barang penumpang hanyut entah kemana.”

“ Baiklah terima kasih.”

“ Ya sama-sama.” Sambil menutup telepon.

Zul, langsung bergegas ke kantor yang diberitahukan itu tanpa menyentuh sarapan yang disediakan Man.

“ Man, aku mau ke pelabuhan dulu.”

“ Ada apa Zul.”

“ Nanti aku beritahu.”

Zul, langsung berangkat tanpa berbicara banyak kepada Man.Sambil menaiki motor milik Man yang dipinjamnya ia langsung menuju tempat yang dimaksud.Sesampai di tempat itu ia langsung mananyakan langsung kepada karyawan yang ada di sana

“ Mbak, katanya penumpang yang bernama Saleha ada menitipkan barang.”

“ Oh ya, kamu pergi ke ruang tengah ada karyawan yang bernama Ety,tanya langsung di sana.

“ Terima kasih Mbak.”

Zul langsung menuju ke tempat yang dimaksud dan menjumpai karyawan itu dengan penuh harapan.

“ Saudara Zul ya.” tanya karyawan itu.

“ ya saya.”

“ ini ada barang yang ditinggalkan penumpang yang bernama Saleha sebelum berangkat.katanya untuk Zulkifli.”

“ Terima kasih Mbak.”

“ ya, sama-sama.”

Zul langsung menuju ke rumah dan menjadi tanda tanya apa sebenarnya dalam bungkusan ini.Sesampainya di rumah tanpa menunggu waktu lagi ia langsung membuka bungkusan itu.Dengan jantung yang berdegup kencang dan darah terasa tersekat seketika.Dibukanya ternyata sebuah buku catatan yang penuh makna arti hidup.Buku tersebut milik Zul yang pernah minta pendapat Saleha dan harus mengisi habis buku itu sesuai pendapatnya tentang arti hidup.Sekarang buku itu telah habis terisi sampai akhirnya hingga Saleha pergi buat selama-lamanya.Zul menitik air mata teringat akan Saleha sambil membaca buku yang dititipkan dulu pada Saleha.Sekarang Buku tersebut sudah di tangannya.Menjadi pelajaran untuk makna hidup dari seorang yang bernama Saleha.

Gunawan.R merupakan Penggiat Sastra dan Literasi, karya-karyanya terbit berupa cerpen dan Sajak di Majalah Sagang 2007 dan 2008, kini beliau aktif menulis di Media online dan Sebagai pendidik di Kota Dumai.


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar