Sejarah Perkembangan Bumi Siak Pusako

Siapakah Pendiri Bumi Siak Pusako ?

Foto : Logo Kerajaan Bumi Siak Pusako
PEKANBARU, seputarriau.co - Mungkin hanya segelintir generasi muda Indonesia yang mengenal sosok Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh (Penghulu Pusako-Kerajaan Siak Sri Inderapura) di tahun 1924 silam. Berkat tangan dinginnya, usaha dan kerja keras yang dirintisnya telah berhasil merambah jaringan bisnis lintas sektoral hingga ke Singapore dan manca negara.
 
Bermula dari sebuah cita-cita luhur ingin mengembangkan rintisan usaha Kakek (Encik H. Muhammad Yasin bergelar Panglimo Hitam) serta Ayahanda Beliau (Encik H. Muhammad Nuh) di bidang Perkebunan Karet dan Penyamakkan Kulit Buaya di Dusun Pusako, serta berkat dorongan istri Beliau, Hj. Halimah binti H. Ahmad Baqi, telah menguatkan semangat Penghulu Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh untuk membangun sebuah imperium bisnis keluarga. Ditambah dengan melihat kuatnya jiwa bisnis yang dimiliki adik kandungnya, Encik H. Abdul Kahar bin E. H. Moh. Nuh, yang perlu dibina dan diberikan modal usaha.
 
Maka di tahun 1924 bersama adiknya, Encik H. Abdul Kahar, Beliau pun mendirikan NV. KAZEIN: sebuah perusahaan yang mereka hantarkan sampai akhirnya sukses menjadi eksportir yang bergerak di bidang komoditi karet & kulit buaya hingga ke manca negara.
 
Pada tahun 1935 NV. KAZEIN membuka kantor cabang pemasarannya di Singapore, tepatnya di Pahang Street No.10 Singapore dan telah memiliki karyawan dari berbagai negara. Di tahun 1944 Penghulu Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh wafat di Siak Sri Inderapura dan N.V. KAZEIN diteruskan oleh adiknya, E. H. Abdul Kahar, dengan mengubah nama perusahaan menjadi N.V. KAHAR SERIKAT.
 
Sosok Penghulu Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh
 
Penghulu Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh lahir tahun 1898 di Dusun Pusako, Siak Sri Inderapura. Beliau adalah putra ketujuh dari 9 (sembilan) orang bersaudara. Kakeknya, Encik H. Moh. Yasin bergelar Panglimo Hitam, merupakan salah satu Panglimo Perang Sultan Siak yang dengan gemilang berhasil memimpin pasukan Kerajaan Siak dalam memadamkan pemberontakan di wilayah Kesultanan Siak di Bagan sekitar tahun 1864.
 
Tahun 1933 N.V. KAZEIN menanamkan modalnya dengan membuka Kantor, Pergudangan serta Perkebunan di Pekanbaru oleh karena ramainya para pedagang kecil dari Teratak Buluh, Petapahan, Pangkalan, hingga Sumatera Barat yang membawa hasil daerah  masing-masing ke Pekanbaru. Produk-produk (Karet, Kulit Buaya, dll.) tersebut kemudian di-ekspor oleh N.V. Kazein ke manca negara. Di Pekanbaru N.V. Kazein berkantor dan bergudang di Jl. Saleh Abbas saat ini (Pasar Bawah) dan di Sultan Syarif Hasyim Straacht (di muka Mesjid Raya) Senapelan Pekanbaru. Sedangkan Investasi Beliau di bidang Perkebunan dengan membuka lahan perkebunan Karet yang mencakup wilayah Pasar Pusat (seputar Plaza Sukaramai saat ini), Pancalawah (sepanjang jalan Sudirman menuju Bandara Sultan Syarif Kasim II), sampai ke Kampung Kasang 13, Buluh Cina (seputar Jl. Kaharudin Nasution ke arah Taluk Kuantan) dan beberapa derah lainnya.
 
Kala itu NV. KAZEIN bersama ACEH KONGSI telah berhasil mengukir sejarah dunia usaha sebagai salah satu dari dua perusahaan besar di Sumatera di era 1930-an. Bahkan T.D. Pardede (pemilik grup Pardedetex) pernah menjadi sosok binaan NV. KAZEIN sebelum Pardedetex terbentuk.
 
Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh bergelar Penghulu Pusako selain telah berhasil merintis jaringan bisnis, melalui tangan dinginnya, Beliau juga berhasil meng-kader beberapa putra jati Melayu saat itu seperti:
 
Memberikan modal usaha kepada H. Bakar (eks. Supir Pribadi Beliau) untuk membuka usaha di bidang transportasi, yaitu dengan membelikan sebuah bus untuk awal mulai usaha sehingga berkembang menjadi PO. Bus Batang Kampar.
Membimbing H. Saleh Abbas (diabadikan sebagai nama jalan di Pasar Bawah Pekanbaru) untuk selalu mendampingi  Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh dalam membuka kantor-kantor cabang. Membimbing A. Yatim (diabadikan sebagai nama jalan di Pasar Bawah Pekanbaru) dengan mengangkatnya sebagai sekretaris pribadi Beliau. Membimbing H. Eya Buchari (CV. NASCO sekarang) dengan mengangkat beliau sebagai WakilDirekturNV. KAZEIN Cabang Palembang. Membimbing H. Awaludin sehingga beliau menjadi pengusaha sukses yang sangat disegani hingga saat ini. Membimbing H. Akasah sehingga beliau menjadi pengusaha sukses yang sangat disegani hingga saat ini (pemilik pompa bensin pertama di Kota Pekanbaru, di Jl. Senapelan ujung).
 
Membuka NV. Banteng Mas di wilayah Kota di Batavia (Jakarta) dan menempatkan beberapa putera terbaik Pekanbaru di perusahaan tersebut. Salah satunya (alm) H. Abdul Rasyid Redha Hamid, abang dari Letjen (TNI) H. Syarwan Hamid, yang kemudian berkembang menjadi 2 buah perusahaan sepatu terbesar di Batavia dan Bogor milik H. Abdul Rasyid Redha Hamid (PT. Inasa dan PT. Borma) pada masa tersebut. Dan lain-lain yang tidak bisa kami sebutkan satu-persatu di sini.
 
NV. KAHAR SERIKAT terus berkembang dengan pesatnya dan mulai tahun 1935 memiliki beberapa kantor cabang perusahaan secara berturut-turut di Singapore, Medan, Bukit Tinggi, Padang, Palembang dan kemudian di Jakarta.
 
Setelah 22 tahun berkiprah di dunia usaha, yaitu dari usia 24 tahun,  Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh akhirnya meninggal dunia di usia yang relatif muda, yaitu di usia 46 tahun karena sakit gula yang saat itu belum dikenal obatnya dan dimakamkan di sebelah makam ayahnya Encik H. Moh. Nuh bin E. H. M. Yasin (Pendiri Dusun Pusako) di tanah kelahirannya, Dusun Pusako Siak Sri Inderapura pada tanggal 10 Agustus 1944 silam.
 
 
 
Encik H. Muhammad Yasin bergelar Panglimo Hitam:
 
Sosok Panglima Perang Kesultanan Siak Sri Inderapuraperiode Sultan Syarif Kasim I (1864-1889). Kisah bermula pada tahun 1864 ketika Yang Dipertuan Besar Sultan Syarif Kasim I memanggil dua orang abang adik yang mempunyai kemampuan berperang yang sangat tinggi, amalan-amalan Al-Quran yang tiada tandingannya dunia-akhirat. Kedua sosok sakti tersebut bernama: Encik H. M. Yasin dan Encik H. Saidi. Mereka yang sedang menyepi di wilayah Johor (Malaysia) pun berangkatlah ke Istana Siak Sri Inderapura memenuhi panggilan Paduka Sultan Siak. Rupanya tugas besar tengah menanti untuk mereka selesaikan yakni memimpin Pasukan Kerajaan Siak berangkat ke wilayah Bagan yang tengah memberontak besar-besaran. Singkat cerita tugas tersebut berhasil dengan gemilang diselesaikan, pemberontakan berhasil dipadamkan. Selanjutnya berpisahlah kedua Panglimo tadi, Encik H. Saidi pergi ke Kualo Mandau sedangkan Encik H. M. Yasin menetap di Siak menikah dengan Encik Entih serta mengabdi sebagai Panglimo Kesultanan Siak bergelar “Panglimo Hitam“. Pada tahun 1866 lahirlah putra Beliau yang diberi nama: Encik Muhammad Nuh bin E.H.M. Yasin.
 
 
Encik H. Muhammad Nuh bin E. H. M. Yasin:
 
Sosok Pendiri Dusun Pusako, Siak Sri Inderapura pada tahun 1896
Encik Muhammad Nuh bin E.H.M. Yasin bersahabat erat dengan Sultan Syarif Hasyim dikarenakan mereka merupakan kerabat, lantas mereka tumbuh besar bersama serta pada lingkungan yang sama pula. Persahabatan yang sedemikian erat membuat Sultan Syarif Hasyim sampai melarang Encik Muhammad Nuh bin E.H.M. Yasin untuk kembali dan menetap di Johor. Bahkan Sultan Syarif Hasyim kemudian bertitah: “Aku tak ijin Engkau pergi wahai Putra Panglimo Hitam! Seberapo lebar engkau nak membuat kampung, nak membuat kebun, ambiklah tanahnya…“
 
Mulailah Encik Muhammad Nuh bin E.H.M. Yasin membuka kampung baru di Suak Merbau, Beliau berkebun dan tinggal di kampung tersebut dua tahun lamanya. Namun Beliau tetap merasa risau dan tidak tenang fikirannya karena merasa tidak cocok di Suak Merbau tersebut. Sampailah suatu hari nampak oleh Encik Muhammad Nuh bin E.H.M. Yasin perahu dari Tuan Syeh Abdul Wahab (adik dari Atuk dari Umi Farida binti H. Abdul Baqi) datang dari Kuala Besilam. Tuan Syeh tersebut menyarankan agar Encik Muhammad Nuh bin E.H.M. Yasin membuka kampung di seberang (Pusako sekarang) dan Insya Allah akan berkat sampai ke anak cucu. Pesan Tuan Syeh segera setelah membakar semak belukar di seberang tanamilah lada. Malamnya terdengar suara wanita menangis dari tempat yang mereka bakar. Ternyata ditemukanlah makam tua, makam Keramat Betino, semakin ke darat ditemukan banyak pohon manggis, durian, dan pohon buah-buahan lainnya. Ternyata dahulu sudah pernah ada perkampungan di sini tapi kemudian ditinggalkan. Maka dinamakanlah oleh Encik Muhammad Nuh bin E.H.M. Yasin kampung yang baru mereka buka tersebut „Dusun Pusako“. Bersamaan dengan panen lada yang ditanami di awal membuka kebun, datanglah permintaan lada besar-besaran dari Singapore. Ribuan tongkang lada diekspor ke Singapore. Kemudian oleh Encik H. Moh. Zein bin E. H. Moh. Nuh bergelar Penghulu Pusako, lahan perkebunan yang masih kosong ditanami Kayu Karet sehingga menjadi perkebunan karet yang luasnya +/- 5.000 Ha. (MT)
 
 
Nara Sumber: T. Meiko Sofyan, generasi ke-3  Encik H. Moh. Zein bin H. Moh. Nuh,
 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar