Menjadi Pemimpin yang Islami

PEKANBARU, seputarriau.co - Berbicara namanya pemimpin yakni sosok seseorang yang di percayakan dan diberikan amanah kepadanya dengan sepenuhnya, mengharap apa yang  dilakukannya itu terbaik untuk yang dipimpinnya bukan yang terbaik untuk dirinya.

Bicara karakter seperti itu adalah kerakter pimimpin yang di miliki oleh pemimpin umat islam karena pemimpin islam itu ada seorang yang patut ditiru dan harus di ikuti yang mana salah satunya adalah Nabi kita MUHAMMAD SAW yang mana kepemimpinannya yang sangat baik dan bersejarah di dunia dan akhirat yang mana sejak bumi di buat oleh ALLAH SWT sapai bumi di hancurkan oleh ALLAH SWT (Red *kiamat) tapi semua itu sangat disayangkan di negara kita ini Indonesia terutamanya  pemimpin hanya lah kata pemimpin marioitasnya sebagai pemimpin tidak di laksanakannya tidak di jaganya amanah yang telah di embannya dan dipertanggu jawabkan semua itu hanyalah sebagai visi hawa nafsunya yang ingin menang sendiri orang lai tidak di pikirkannya (Red *rakyakt) rakyat sensara pemimpin diam, dimana letak namanya keadilan pimimpin itu apa kah hanya sebuah gelar kah atau sebuah tujuan yang ingin mendapatkan kesenangan sendiri.

Akan tetapi, yang dinamakan pemimpin itu adalah bertangung jawab di sini bukan semata-mata bermakna melaksanakan tugas lalu setelah itu selesai dan tidak menyisakan dampak (atsar) bagi yang dipimpin. Melainkan lebih dari itu, yang dimaksud tanggung jawab di sini adalah lebih berarti upaya seorang pemimpin untuk mewujudkan kesejahteraan bagi pihak yang dipimpin. Karena kata ra ‘a sendiri secara bahasa bermakna gembala dan kata ra-‘in berarti pengembala. Ibarat pengembala, ia harus merawat, memberi makan dan mencarikan tempat berteduh binatang gembalanya. Singkatnya, seorang penggembala bertanggung jawab untuk Mensejahterakan binatang gembalanya.

Namun cerita gembala hanyalah sebuah tamsil, dan manusia tentu berbeda dengan binatang, sehingga menggembala manusia tidak sama dengan menggembala binatang. Anugerah akal budi yang diberikan ALLAH SWT kepada manusia merupakan kelebihan tersendiri bagi manusia untuk mengembalakan dirinya sendiri, tanpa harus mengantungkan hidupnya kepada penggembala lain. Karenanya, pertama-tama yang disampaikan oleh hadis di atas adalah bahwa setiap manusia adalah pemimpin yang bertanggung jawab atas kesejahteraan dirinya sendiri. Atau denga kata lain, seseorang mesti bertanggung jawab untuk mencari makan atau menghidupi dirinya sendiri, tanpa mengantungkan hidupnya kepada orang lain.

Dengan demikian, karena hakekat kepemimpinan adalah tanggung jawab dan wujud tanggung jawab adalah kesejahteraan, maka bila orang tua hanya sekedar memberi makan anak-anaknya tetapi tidak memenuhi standar gizi serta kebutuhan pendidikannya tidak dipenuhi, maka hal itu masih jauh dari makna tanggung jawab yang sebenarnya. Demikian pula bila seorang majikan memberikan gaji PRT (pekerja rumah tangga) di bawah standar UMP (Upah Minimum Provinsi), maka majikan tersebut belum bisa dikatakan bertanggung jawab. Begitu pula bila seorang pemimpin, katakanlah presiden, dalam memimpin negerinya hanya sebatas menjadi “pemerintah” saja, namun tidak ada upaya serius untuk mengangkat rakyatnya dari jurang kemiskinan menuju kesejahteraan, maka presiden tersebut belum bisa dikatakan telah bertanggung jawab. Karena tanggung jawab seorang presiden harus diwujudkan dalam bentuk kebijakan yang berpihak pada rakyat kecil dan kaum miskin, bukannya berpihak pada konglomerat dan teman-teman dekat. Oleh sebab itu, bila keadaan sebuah bangsa masih jauh dari standar kesejahteraan, maka tanggung jawab pemimpinnya masih perlu dipertanyakan Dan apa pulak ancaman bagi pimimpin yang zolim?

“Tidaklah seorang hamba yang Allah beri amanat kepemimpinan, namun dia tidak meliputinya dengan nasihat, kecuali tidak mendapat bau surga.” (HR BUKHARI – 6617), Maka apabila (pemimpin) berkhianat terhadap apa yang dipercayakan kepadanya lalu dia tidak menasihati (kebaikan) yang harus ditiru, baik itu dengan menyia-nyiakan hak mereka (rakyat) dan (menyia-nyiakan) kewajiban berupa urusan-urusan agama mereka dan dunianya atau lainnya, maka sungguh dia telah menipu mereka. Hadits ini memperingatkan para pemimpin bahwa mereka tidak mencium harumnya bau surga jika mereka menzalimi rakytanya, maka fahamilah! (Faidhul Bari aas Shahih Bukhari 6/480).

Ini lah renungan bagi  kalian, Maka apabila (pemimpin) berkhianat terhadap apa yang dipercayakan kepadanya lalu dia tidak menasihati (kebaikan) yang harus ditiru, baik itu dengan menyia-nyiakan hak mereka (rakyat) dan (menyia-nyiakan) kewajiban berupa urusan-urusan agama mereka dan dunianya atau lainnya, maka sungguh dia telah menipu mereka. Hadits ini memperingatkan para pemimpin bahwa mereka tidak mencium harumnya bau surga jika mereka menzalimi rakytanya, maka fahamilah! (Faidhul Bari aas Shahih Bukhari 6/480). Hadits diatas telah menerangkan bahwasanya setiap pemimpin itu pasti di mintak pertanggu jawabannya dan sadari lah wahai pemimpin pemimpi kami INDONESIA kami berharap pemimpi indonesia memperhatikan rakyatnya yang jangan lah hanya memperhatika maslahat sendiri perhatikan lah rakyat mu sekarang ini penuh dengan maslah kesusahan kami hanya memintak ke adilan dan kenyamanan kami atas hak hak kami.
Rendi lawarmenza adalah pengurus di komunitas pena kelana indonesia dan alumni ponpes ansor al-sunnah.
(MN)


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar