Bercanda Menakut-nakuti, Bisa Ganggu Kesehatan Mental Anak

Waspada ! Bercanda Menakut-nakuti, Bisa Ganggu Mental Anak

Saat ini film horor bisa dibilang sedang tren dan jadi salah satu tontonan favorit di Indonesia.
Dari sana muncul juga tren di media sosial yang menggunakan suara
horor untuk menakut-nakuti anak kecil.

Yang sering dilakukan, orang menaruh kamera ponsel untuk merekam di dalam kamar, kemudian meninggalkan anak sendiri di kamar dengan pintu tertutup. Saat anak sendiri, disetel suara horor.
Responsnya tentu saja anak ketakutan. Ada yang berteriak, menangis, bahkan mencerit histeris, meskipun ada juga yang malah ikut tertawa ketika mendengar suara ala kuntilanak itu.

Terkesan sepele dan jadi candaan, tapi tak jarang rasa takut yang dialami anak sangat nyata dan serius, bahkan sampai membuat si kecil mengalami mimpi buruk.
Lantas, sebenarnya boleh enggak, sih, kita bercanda seperti ini kepada anak-anak? “Tidak boleh!”
dengan tegas Ayoe Sutomo, M.Psi., Psikolog, psikolog anak dan remaja dari Tiga Generasi menyampaikan.

“Pada saat ditakut-takuti, otak anak akan memproduksi banyak hormon kortisol, yakni hormon yang keluar pada saat individu berada dalam kondisi yang enggak rileks,npenuh ketakutan, dan stres,” kata Ayoe.
Hal tersebut tentunya tidak baik untuk tumbuh kembang si kecil, bahkan bisa berdampak pada
sistem imun tubuh anak.

Jika sinyal cemas ini terus aktif, anak akan merasakan ketakutan dan cemas secara terus menerus.
Pada akhirnya anak merasa tidak aman atas lingkungan sekitarnya.

“Efeknya si kortisol berpengaruh terhadap sistem imun, membuat otak yang bagian cemas itu terbiasa untuk terus menyala, membuat (anak) terus dipenuhi rasa takut dan cemas,” jelas Ayoe.

Sementara itu, ketika sering ditakut-takuti, anak sudah pasti tidak merasa aman secara emosi.
Apalagi justru orangtua atau orang dewasa di sekitarnya yang menakut- nakuti dirinya dan menjadikannya sebagai bahan bercanda

Jadi Tak Percaya Diri

Dalam jangka panjang, secara tidak langsung, kebiasaan menakut-nakuti anak juga bisa membuat anak tumbuh menjadi individu yang tidak percaya diri.
Pasalnya dampak dari rasa takut tersebut, pada akhirnya membuat anak tak berani mencoba hal baru, karena dipenuhi oleh ketakutan.
Ketika anak kurang berani mencoba hal baru, maka tentu berpotensi mengurangi atau membuat inisiatif anak menjadi berkurang.
Ujung-ujungnya anak jadi tidak percaya diri.

“Padahal anak yang penuh inisiatif, penuh keberanian, itu merupakan salah satu fundamental
penting bagi tumbuh kembang anak,” ujar Ayoe.

Batasan Bercanda

Bercanda tentu boleh, bahkan dianjurkan sebagai bentuk bonding orangtua dengan anak, asal tidak kelewat batas. Jangan sampai yang awalnya bertujuan menghibur malah jadi sebaliknya.
Perlu diingat, saat bercanda, pastikan output yang dihasilkan adalah positif.


Padahal perasaan aman, adalah salah satu perasaan yang fundamental yang harus ada pada anak, baik secara fisik maupun emosional.

Ketika anak sudah tidak merasa happy lagi dengan permainan atau bercandaan yang dilakukan, berarti bercandanya sudah kelewatan.

“Ketika itu memunculkan banyak emosi negatif dibandingkan postif, misal anak jadi ketakutan, cemas, tidak berani, sedikit-sedikit merengekmenangis, atau ketika anak sudah menyatakan ketidaknyamanannya dan ketidaksukaan terhadap model bercanda atau bermain yang seperti itu, sebetulnya harus di-review ulang, ini bercanda menyamankan anak atau enggak,” pungkas Ayoe
Waduh jangan sampai gara-gara bercanda buat konten, masa depan anak jadi taruhannya !

 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar