Optimalkan KUKERTA UNRI 2022, Mahasiswa olah Biji Karet menjadi olahan Tempe


KAMPAR, seputarriau.co  - Pohon karet merupakan salah satu tanaman penting di Indonesia yang banyak terdapat di Pulau Sumatra. Indonesia adalah negara penghasil karet terbesar di dunia setelah Thailand dengan kontribusi mencapai 26% total produksi karet alam dunia. Selain menghasilkan lateks sebagai bahan utama pembuatan ban, pohon karet juga menyerap gas buangan dan menghasilkan oksigen yang jauh lebih maksimal. Tanaman ini juga menyerap gas karbondioksida yang diolah menjadi sumber karbon untuk fotosintesis. 

Hal ini sangat membantu dalam mengurangi atau mengatasi efek rumah kaca seperti pemanasaan global dan kerusakan lingkungan. Namun di sisi lain pohon ini juga mempunyai biji karet yang masih jarang diolah. Inilah yang mendorong mahasiswa KUKERTA UNRI di Desa Muara Jalai, Kecamatan Kampar Utara untuk mengedukasi warga setempat mengenai pembuatan tempe dari biji karet yang dilakukan pada hari Rabu, 27 Juli 2022 bertempat di Aula kantor Desa Muara Jalai. 

Mahasiswa yang tergabung dalam kelompok KUKERTA UNRI ini adalah Muhammad Rusdi dan Farrel Pratama prodi Ilmu Kelautan, Salsabila Balqis dan Neng Ina Setyawati prodi Administrasi Publik, Anisah Risle Munte prodi Teknik Elektro, Revi Yuli Darma prodi Ilmu Pemerintahan, Imam Alvarizi, Tiara Dwisca Nadimisia, Fiqih Abdul Mazah, dan Silvinia prodi Teknik Kimia. Mereka ditempatkan di Desa Muara Jalai, Kecamatan Kampar Utara, Kabupaten Kampar, Riau.

Menurut Imam Alvarizi, kegiatan ini diadakan karena banyaknya biji karet yang belum dimanfaatkan sebagai bahan baku olahan pangan. “Biji karet yang jatuh dari pohon hanya dibiarkan begitu saja dan hanya sebagian yang digunakan sebagai bibit oleh petani” kata Imam. 

Di samping itu, tujuan dilaksanakannya sosialisasi adalah untuk memberikan pandangan baru bagi masyarakat bahwa biji karet yang menjadi potensi besar di Desa Muara Jalai akan memiliki nilai jual yang lebih apabila masyarakat mau tergerak untuk memanfaatkannya, seperti mengolah menjadi tempe. Silvinia mengatakan tempe adalah makanan yang akrab dengan keseharian masyarakat. Biji karet mengandung 31,6% karbohidrat, 15,6% protein, 40,9% lemak dan sisanya adalah mineral dan asam sianida. Oleh karena itu asam sianida ini harus dihilangkan dengan cara perendaman dan perebusan. 

Asam sianida mempunyai sifat yang mudah larut dan mudah menguap sehingga saat perendaman  akan terbuang bersama air. Sedangkan proses perebusan zat linamerase dan asam sianida akan terakumulasi. “Tempe dari biji karet lebih lembut daripada tempe kedelai, tidak cepat busuk dan dapat disimpan selama 1 minggu di dalam lemari es” papar Silvinia.

Neng Ina Setyawati menjelaskan proses pembuatan tempe biji karet diawali dengan menyiapkan 1kg biji karet yang masih muda dan keras. Selanjutnya, biji karet dipisahkan dari cangkangnya. Setelah terpisah, kulit arinya dibuang. Setelah itu, daging biji karet direndam selama 1 × 24 jam.  Setelah direndam, kemudian rebus selama 2 jam. Tiriskan dan biarkan hingga dingin, setelah dingin air rebusan dan bakal daun yang terdapat dalam biji dibuang. Rendam kembali biji karet selama 3×24 jam dan dilakukan penggantian air selama 6 jam sekali menggunakan air mineral agar zat-zat yang tidak diinginkan tidak masuk kembali ke dalam biji karet, lalu cuci dan dikukus selama ± 30 menit. Setelah dikukus selama  ±  30 menit, air yang  tersisa di dalam panci  dibuang, kemudian biji karet dipindahkan ke tampah dan  diratakan tipis-tipis. Biarkan dingin sampai permukaan keping karet kering dan airnya menetes habis.

 Agar bentuknya menyerupai biji kedelai, biji karet terlebih dahulu dipotong kecil-kecil. Setelah dingin, taburkan ragi tempe (Rhizopus oryzae) sebanyak 1 sdm sambil   diaduk hingga rata. Penambahan ragi bertujuan untuk  mempercepat atau merangsang pertumbuhan jamur. Tahap peragian (fermentasi) adalah tahap penentu keberhasilan dalam membuat tempe. Selanjutnya, tempe dikemas sesuai dengan selera, dapat menggunakan plastik ataupun daun pisang. Plastik atau daun pisang yang telah berisi biji  karet  dilubangi dengan  menggunakan  jarum   yang   terbuat  dari kayu  ukuran kecil  kira-kira 8-10 lubang untuk  setiap sisi atas dan sisi bawah.  

rps20220731-214208

Tempe disimpan di tempat yang tidak tertutup. Untuk menghindari pembusukan pada tempe karena suhu yang terlalu panas, usahakan di tempat yang terjadi sirkulasi udara. Tempe didiamkan kurang lebih selama 2 × 24 jam. Setelah itu tempe siap diolah menjadi makanan yang lezat dan bergizi tinggi.

Ketua PKK Desa Muara Jalai, Ibu Nela Anggraini Alda mengucapkan terima kasih kepada mahasiswa KUKERTA UNRI yang sudah berkenan menyelenggarakan kegiatan yang positif bagi masyarakat Desa Muara Jalai. 

“Saya berharap kepada masyarakat yang hadir dalam kegiatan tersebut untuk mengambil ilmu dan bisa menyampaikannya kepada sanak saudara atau tetangga sehingga dapat bersama-sama memanfaatkan potensi biji karet di Desa Muara Jalai menjadi sesuatu yang memiliki nilai jual serta dapat menambah penghasilan keluarga” katanya. 

Salah satu warga, Ibu Nurnilis menyampaikan rasa senang dan antusiasnya selama pelaksanaan kegiatan sosialiasi. Menurutnya informasi yang disampaikan sudah sangat jelas dan memberikan informasi baru serta berharap semoga masyarakat Desa Muara Jalai tergerak untuk belajar lebih mendalam mengenai proses pemanfaatan biji karet menjadi olahan pangan berupa tempe. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk upaya mahasiswa KUKERTA UNRI dalam maksimalisasi potensi desa yang nantinya diharapkan dapat meningkatkan pendapatan keluarga maupun UMKM Desa Muara Jalai.

(MN)


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar