SYEKH YAHYA AFFANDI, TUAN GURU KEDUA BABUSSALAM

Foto : ALLAHYARHAM SYEKH YAHYA AFFANDI adalah Tuan Guru Kedua Babussalam, Langkat


LANGKAT, seputarriau.co  - ALLAHYARHAM SYEKH YAHYA AFFANDI adalah Tuan Guru Kedua Babussalam, Langkat. Beliau diangkat sebagai Mursid dan Nazir Babussalam (Besilam) sesuai adab Tarekat Naqsyabandi, menjelang pemakaman ayahandanya, Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi, yang wafat pada 21 Jumadil Awal 1345 H/27 Desember 1926.

Semasa hidup, Syekh Yahya dikenal zuhud, intlektual, tangguh, dan berkepribadian kokoh. Ayahandanya mendidiknya dengan ketat, mengirimnya mendalami Tharekat Naqsyabandiyah di Jabal Abu Qubais, Mekkah – tempat Syekh Abdul Wahab Rokan mendalami tarekat -- hingga meraih ijazah. Yahya juga menimba ilmu di Universitas Al-Azhar Kairo, mengumpulkan dana pembangunan Babussalam di Malaysia,Turki, Hongkong, dan ke sejumlah negara.

Yahya dilahirkan pada 1294 Hijriyah (1875 M). Wafat pada 20 Zulkaedah 1349 H (28 Desember 1929) dalam usia 55 tahun. Yahya putra kedua dari pernikahan Syekh Abdul Wahab Rokan dan Khadijah binti Abdullah Kualuh. Putra pertama hasil perkawinan ini adalah Ahmad, yang wafat dalam usia 20 bulan. Adik bungsunya adalah Syekh Bakri. 

Semasa anak-anak dan remaja di Kualuh, Kubu, dan Babussalam, Syekh H Yahya dan Syekh Bakri diasuh makciknya, Kaedah binti Qasim, istri Bilal M Yasin, saudara seayah Abdul Wahab Rokan.  Kaedah adalah ibu kandung dari Aswad — yang sebelumnya dikenal di Selat Melaka dengan julukan Panglima Hitam. Pusara Kaedah berdekatan dengan putranya Aswad di Selingkar, Langkat.

Yahya senantiasa mengikuti Syekh Abdul Wahab Rokan, termasuk membuka kampung Babussalam, dari tanah yang diwakafkan Sultan Langkat, Musa Al-Mua’azzamsyah pada 1300 H. Di Babussalam (Besilam), Syekh Abdul Wahab Rokan, yang membawa sekitar 160 orang murid dan keluarganya dari Kualuh, mengembangkan Tarekat Naqsyabandiyah, pertanian, juga percetakan atas sejumlah buku-bukunya. Madrasah dan tempat suluk dibangun. Kampung ini maju.

Kemajuan pesat dalam tempo sekitar tujuh tahun itu, dicurigai pemerintah Hindia-Belanda. Fitnah besar pun ditujukan kepada Syekh Abdul Wahab. Tuan Guru dituduh mencetak uang. Juga disebut ikut dalam Peperangan Aceh. Padahal saat itu, menurut kesaksian murid-muridnya, Syekh Abdul Wahab tidak keluar dari kelambunya di Besilam.

Terhadap fitnah Belanda, yang disampaikan pihak Istana Langkat, Syekh Abdul Wahab berembug dengan para Khalifah. Syekh Abdul Wahab Rokan disarankan meninggalkan Besilam. Dalam waktu yang hampir bersamaan, Yahya yang ketika itu berusia sekitar 17 tahun, bersama Aswat dan ibunya Kaedah binti Kasim, siap-siap berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Saat itu, ke Mekkah melalui Penang, Malaysia. 

Tuan Guru mohon izin kepada Sultan Langkat untuk mengantar Yahya, Khalifah Aswad, dan Kaedah ke Penang, Malaysia. Sejak itu, dalam waktu yang lama, Tuan Guru meninggalkan Besilam. Selama masa itu, Syekh Abdul Wahab berkunjung ke Batu Pahat, Johor, Singapura, Melaka, dan sejumlah wilayah di Malaysia. Ada yang berpendapat, Tuan Guru tersinggung pada Kesultanan atas fitnah Belanda tersebut.

Di Mekkah, H Yahya mendapat tambahan nama Affandi, menjadi H Yahya Affandi, sedangkan Kaedah bergelar Hajjah Shafiah binti Qasim, dan Aswat bergelar Haji Abdul Hakim. Setelah menunaikan Ibadah Haji, H Yahya Affandi tidak langsung pulang ke Babussalam, melainkan selama setahun menambah ilmu Terekat Naqsyabandiah dan bersuluk di Jabbal Abu Qubais. Setelah pulang ke Tanah Air, Yahya bersuluk selama 40 hari di Batubara, yang langsung dipimpin ayahandanya, Syekh Abdul Wahab Rokan.

Secara perlahan, sejak 1315 H, Tuan Guru telah memberi peran penting pada Yahya, selain soal pengajaran agama, tarekat, juga pembangunan Besilam. Semua anak dan cucu Yahya dari pernikahan ini, tinggal di Malaysia hingga kini.

Ketika membangun Besilam, Syekh Yahya menjual tanahnya seluas 121,4 ha di Jerlun, Kuala Kangsar, Perak. Hasil karet di Kampung Jerlun juga turut disalurkan ke dana pembangunan Babussalam.
 
Tidak hanya di Malaysia. Yahya juga berusaha mencari dana pembangunan Babussalam sehingga sampai ke Turki. 
Syekh Yahya bersama saudaranya, Pakih Tuah, Pakih Muhammad, dan H Muhammad Nur, ditugaskan Tuan Guru Syekh Abdu Wahab Rokan mendirikan sebuah madrasah (maktab) tempat mengaji, sebagai pengganti madrasah lama. Madrasah ini terkenal dengan Maktab Babussalam. Gedungn terdiri dari tujuh lokal. Lantai dan dindingnya beton, dan atap seng. Peralatannya, diperbuat dari kayu-kayu yang kokoh. Pekarangannya cukup luas, untuk tempat bermain dan berolah raga. 

Gedung ini dibangun, setelah memperhatikan besarnya minat dan perhatian masyarakat terhadap pendidikan agama ala pesantren. Madrasah ini begitu maju, menggunakan kurikulum yang disesuaikan dengan Al Azhar Kairo, tempat Yahya menimba ilmu, diasuh oleh guru-guru pilihan. 

Murid-murid berdatangan dari Tanjung Pura, Kualuh, Rokan, Aceh, Tapanuli dan daerah-daerah lainnya. Kemudian, untuk menampung para pelajar yang jumlahnya kian bertambah banyak, maka didirikan pula asrama pelajar.
 
Belum setahun proses pembangunan berjalan, kabar duka pun datang. Tuan Guru Syekh Abdul Wahab Rokan Al-Khalidi Naqsyabandi wafat pada 21 Jumadil Awal 1345 H/27 Desember 1926 dalam usia 115 tahun. Duka menyelimuti Besilam dan seluruh keluarga, Khalifah, murid-murid yang tersebar di banyak daerah, juga di luar negeri. 

Telah pergi seorang ulama besar, penyebar Tarekat Naqsabandiyah, seorang zuhud, pahlawan, penyair sufi terbesar. Peneliti tasawuf Universitas Utrecht Belanda, Martin van Bruinessen, menilai Syekh Abdul Wahab Rokan merupakan penyair sufi yang sangat produktif menulis syair sufi, setelah Hamzah Fansuri. (Journal of the History of Sufisme, 2007).

Innalillahi wainna Ilaihi Rojiun – semua kembali kepada Allah swt, Maha Pencipta Langit, bumi, dan seluruh isinya. Maha Mengatur semua galaxy dan perjalanan waktu, dengan Cinta-Nya. Ribuan orang hadir dengan kesedihan, ikut dalam sholat jenazah Syekh Abdul Wahab Rokan di Madrasah Besar. 

Selesai sholat jenazah, sebelum dikebumikan, Sultan Langkat, Sultan Abd. Aziz Abd. Jalil Rahmatsyah -- yang berkuasa menggantikan Sultan Musa -- mengumumkan kepada khalayak ramai, bahwa pengganti almarhum Syekh Abdul Wahab Rokan adalah Syekh H. Yahya Afandi, sesuai dengan adab tharigat. Sultan Abd. Aziz turut memasukkan jenazah Allahyarham ke liang lahat. Saat pemakaman, ribuan manusia datang takziah dari berbagai penjuru. Hadir juga, antara lain Sultan Siak, Seri Paduka Mahkota Bulungan, Tengku Raja Muda Langkat. 

Syekh Yahya Affandi, Tuan Guru Kedua, yang menggantikan ayahandanya, Syekh Abdul Wahab Rokan, meneruskan tradisi tarekat dan pembangunan Besilam. Sebagai Murysid dan Nazir Babusalam, berbagai usaha dilakukan, di antaranya membangun makam Syekh Abdul Wahab Rokan. Sebelum makam dibangun, Syekh H Yahya bermusyawarah dengan beberapa saudaranya dan Khalifah, agar sesuai dengan hukum Islam dan hukum negara. Pembangunan dimulai pada 1927 M (1346 H). Alhamdulillah, hingga kini makam tersebut berdiri kokoh dan menjadi pusat ziarah.

Begitu juga pembangunan madrasah yang telah dirintis sebelum Syekh Abdul Wahab Rokan wafat, diteruskan Syekh Yahya. Madrasah ini menerima para santri dari berbagai wilayah. Hingga tahun 1980-an madrasah ini masih berfungsi dan melahirkan banyak tokoh-tokoh yang kemudian berkarya di masyarakat.
 
Sayangnya, generasi penerus tidak melanjutkan usaha yang mulia ini. Madrasah tidak terurus. Bangunan kokoh pelan-pelan rusak. Tanah di sekeliling madrasah, konon pindah tangan kepada pihak-pihak yang tidak bertanggung-jawab dan mementingkan dirinya. Sisa-sisa bangunan madrasah dirobohkan oleh orang-orang jahat, tidak takut pada Allah, dijual-belikan secara tidak bertanggung jawab, dan melanggar kepantasan serta hukum. 

 

SYEKH Yahya tidak lama menjadi Nazir dan Mursyid, sekitar tiga tahun.  Pada 20 Zulkaedah 1349 H (28 Desember 1929), Syekh Yahya wafat dalam usia 55 tahun. Almarhum digantikan Syekh Abdul Manap, yang kemudian wafat di Mekkah.

Makam Syekh Yahya berada di sebelah makam ayahandanya, Syekh Abdul Wahab Rokan di Malam besar Besilam.

Informasi yang kami peroleh dari H Hamdan bin Mohammad Azmir, putra Syekh H Yahya Affandi yang bermukim di Malaysia, setelah Abdul Manap wafat, Sultan Langkat bercadang mengangkat Mohd Azmir (yang ketika itu masih muda) yaitu adiknya sebagai penggantinya. Namun istrinya, Nyah Jelebah berat hati memenuhi permintaan tersebut. 

Informasi lain dari keluarga H Mohammad Said bin H Yahya atau dikenal juga dengan nama Tuah/Tuan Fakih, putra Syekh H Yahya yang bermukim di Batubara, juga diminta menggantikan Syekh Abdul Manap, namun merasa belum cukup mampu memikul tanggung jawab mulia dan amanah yg besar tersebut.

Setelah mufakat para zuriat dan khalifah, kemudian ditetapkan Syekh Abdul Jabbar, putra Syekh Abdul Wahab Rokan sebagai Nazir dan Mursyid Babussalam, pada 19 Jumadil Akhir 1335 H. Saat itu, Syekh Abdul Jabbar, yang juga adik Syekh Yahya, berusia 61 tahun. Syekh Abdul Jabbar wafat pada 19 Jumadil Akhir 1361 H.

Selanjutnya Mursyid dan Nazir digantikan Syekh Muhammad Daud, dan seterusnya. Saat ini,  Mursyid dan Nazir Babussalam adalah Syekh Dr Zikmal Fuad, Tuan Guru yang ke-12.

Zuriat Syekh Yahya Affandi Al-Wahab Rokan, kini berupaya membangun kembali peninggalan bersejarah Syekh Yahya Affandi, di antaranya madrasah, sesuai dengan rencana Tuan Guru saat ini Syekh Dr Zikmal Fuad. 

Demikianlah secara ringkas Riwayat Hidup Syekh H Yahya Affandi ini. Riwayat ini jauh dari sempurna. Tidak cukup banyak dokumentasi yang tersedia. Diperlukan riset dan penelitian yang mendalam – dan bahkan ini diharapkan menjadi tugas zuriat Bani Yahya untuk menerbitkan sebuah buku yang komprehensif dan menyeluruh.

Jakarta, 22 Juni 2022

Sumber rujukan Riwayat ini: Buku HA Fuad Said berjudul  Syekh Abdul Wahab Tuan Guru Babussalam, Cetakan Ketiga 8 Oktober 1983; Buku Martin van Bruinessen berjudul Tarekat Naqsyabandiyah di Indonesia, edisi kedua 1993; Surat H Hamdan bin H Mohammad Azmir bin Syekh H Yahya Affandi di Malaysia.

Riwayat Hidup Syekh Yahya Affandi ini dibacakan Asro Kamal Rokan, cucu Syekh Yahya Affandi Al-Wahab Rokan Kholidi Naqsyabandi, pada Haul 94 Syekh Yahya Affandi, Ahad (26/06/2022) di kompleks Makam Syekh Abdul Wahab Rokan, Besilam, Langkat.

Catatan Asro Kamal Rokan.


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar