Sastra

CERPEN: KASIH TAK SAMPAI

Karya Siti Andriana
Kalbu menyeruak nyeri pagi itu. Hendak berlabuh pada pelabuhan mana lagi? Jika untuk sampai pada pelabuhan itu banyak sekali ombak menerjang dan mengombang- ambingkan langkah ini dalam berlabuh. Pada sang pencipta kuletakkan hati yang penuh dosa ini. Jika yang terbaik adalah aku takkan sampai pada pelabuhan itu, biar sajalah aku yang berlalu dan memutar haluanku untuk kembali pulang. Jika pelabuhan itu tak lagi memberi kenyamanan untukku, kusanggup mengorbankan masa ini. 
Farhan, salah satu ikhwan yang kukagumi karena keshalehannya. Dia teman SMA ku dulu waktu di Cirebon. Masa itu, ia menjabat sebagai ketua ROHIS 2011. Sejak SMA aku mengenalnya karena kesibukan OSIS selalu bertemu dengannya jika akan mengadakan agenda sekolah. Pada saat itu, masaku menjabat sebagai Sekretaris OSIS. Pertemuan kami hanya sebatas say hello saja, sebab kamipun tidak terlalu mengenal dekat juga. 
Tepat 2012 kami kembali bersua kembali di kampus Perguruan Tinggi Negeri Jakarta, tempat kami akan menuntut ilmu. Ia jurusan pendidikan Kewarganegaraan sedangkan aku jurusan Bahasa dan Seni. Akupun sudah lama meninggalkan kekagumanku terhadapnya, mungkin itu hanya illusi semata bagiku. Akupun berusaha menjauh dari kekaguman yang kumiliki untuknya. 
Perjalanan yang amat menyita waktu dan pikiran, mungkin di situlah letak pengharapan akan diwujudkan. Mengukir kekaguman menjadi persahabatan, mengukir persahabatan yang takkan berujung percintaan. 
Semenjak aku bergelut di lingkungan anak ROHIS, aku tak memiliki waktu untuk memikirkan perkara hati. Sebab, aku percaya jodoh takkan tertukar, rezeki, ajal maut sekalipun. Allah pasti akan memberikan yang terbaik untuk masa depan setiap hambanya. Aku mulai sibuk berkarya dalam hobiku untuk menulis cerpen, sajak dan artikel masa itu. Ku mulai mengirimkan karya-karyaku ke penerbit. Bagiku kebahagiaan yang kudapatkan masa itu adalah mampu menerbitkan karya-karyaku di media online dan cetak. Lumayanlah, bisa membantu isi kantongku untuk membeli kebutuhanku kuliah di negeri orang. 
Pada dasarnya, aku bukan berasal dari orang yang super high cllass. Keluargaku adalah keluarga yang sederhana, meski ayah dan ibuku seorang petani aku tetap memikirkan target hidupku di masa hadapan. Bukan karena keegoisanku, tapi keinginanku untuk memberikan kebahagiaan pada kedua orangtuaku dengan prestasi. Apalagi yang bisa kuberikan? Aku tak mungkin mampu membalas jasa kebaikan ayah dan ibuku. Mereka sangat berarti untuk hidupku, nyawaku dan masa depanku. Tanpa mereka, aku tak mungkin setangguh ini menghadapi ujian-ujian Allah.
Menulis adalah hobi yang harus kusyukuri, bakat yang patut ku hargai dan terus bersyukur pada nikmat Allah. Dengan menulis pula, aku mampu membantu keuanganku ketika ada hal-hal besar yang harus ku beli. Ya, itu memang hobiku menulis.
Tepat 2013 aku mulai kembali berkecimpung dalam organisasi, tepat satu semester aku mulai kuliah. Aku mulai gabung lingkungan Rohis, HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), BEM dan ikatan organisasi daerah dan sekolah. Kembali aku dipertemukan dengan Farhan Arif Sutedjo, ikhwan soleh yang pernah ku kagumi.
“Astagfirulloh, jauhkan pandanganku agar tak menatap dia y Allah.” Gumamku setiap bertemu dengannya.
Tepat pemilihan ketua dan jajarannya di Alumni SMA ku yang diadakan di Jakarta, aku terpilih sebagai sekretaris dan ia sebagai ketua. Sebenarnya banyak teman-teman yang lain yang berpartisipasi, hanya saja mereka menyodorkan namaku di bagian pengurus inti.
Aku lebih sering bekutat dengan tugas-tugas kuliah, selain organisasi yang ku hendel. Namun, pertemuan kami bisa dikatakan lebih sering. Ada saja agenda bulanan yang diadakan untuk menjalin silaturahmi antara senior dan junior.
Suatu hari kami ada rapat agenda bulanan di pendopo kampus. Berbagai pembahasan sudah dishare dengan baik antara masing-masing bidang. Kami mulai berjalan pulang dengan hati yang lega, karena masalah – masalah yang akan diagendakan tuntas.
“Mbak Fajriya, bagaimana kabarnya ?”sapanya ketika aku mulai berjalan pulang.
“Alhamdulillah, Farhan sehat ? tanyaku pula padanya.
“Alhamdulillah sehat Mbak Faj.” Jawabnya
“Apa cerita Mbak, sudah lama tak ngobrol-ngobrol. Gimana kuliah?
“Alhmdulillah lancar, sedang sibuk-sibuk di HMJ dan Rohis paling Farhan. Soalnya kalau tugas sudah makanan sehari-hari di jurusan Mbak.” Jawabku pula
Perbincangan kami terus berlanjut melalui sosial media atau sekedar chatt BBM. Tanpa kami sadari kami mulai saling memberi titik tujuan kedekatan kami. 
Farhan dikenal sebagai sosok yang serius, bersosial yang tinggi, rajin, disiplin dan temperamen dalam bersikap. Satu-satunya yang membuat aku sering cek-cok mulut dengan Farhan jika beradu argumen dan selisih argumen. Terkadang tak jarang diantara kami bersikukuh keras untuk mempertahankan argumen dan ide kami masing-masing. Tak jarang aku sering cerewet dengan masalah-masalah yang dianggap spele oleh Farhan. Meskipun, permasalahan kami adalah permasalahan publik untuk organisasi. Tetap saja menjadi bumerang bagiku jika tidak peka ataupun dianggap kecil suatu masalah yang kami hadapi. Bahkan, teman-teman se-alumni kami sering mengingatkan jika permusuhan kecil diantara kami akan berujung jodoh.
“Ah masa bodo, Allah maha melihat laki-laki yang pantas untukku.” Pikirku demikian.
“Terkadang sikap Farhan ada sombong-sombongnya, gak tau ini candaan atau beneran. Geramnya ...” gumamku setiap menggerutu pasal Farhan.
Waktu demi waktu berlalu, kepengurusan organisasi kamipun berakhir di tahun 2015. Generasi kepengurusanpun kami digantikan oleh adik-adik kami yang masih fresh-fresh sebagai mahasiswa muda. Wah, ternyata kami sudah tua juga ya.
Waktu berjalan sangat cepat bagiku, hingga tanpa kusadari komunikasi anatara aku dan Farhan terputus. Enggan menghubungi teman sombong itulah yang ada dalam pikiran setiap ingat nama Farhan. Kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Dia sibuk di ROHIS sedangkan aku sibuk di BEM kampus. Hal ini yang membuat kami saling melupakan satu sama lain.
Sebagai seorang muslimah, bagiku suatu kebaikan yang datang jika kita mampu menjauhi perasaan zina unntuk mendekati laki-laki yang bukan mahrom kita. Aku bersyukur, kekagumanku pada Farhan sudah punah sebelum bertemu di kampus ini. Selebihnya terisi dengan rasa jengkel, pilu ketika mengalah dan kesal melihat sikapnya yang temperamen.
Suatu hari aku mengikuti kajian di Masjid At-Taqwa di Jakarta bersama teman satu kosku Maya, Linda dan Arifah. Tanpa sengaja, ketika menaiki tangga aku berselisih dengan orang yang sepertinya kukenal. Aku menunduk saja, malu mengangkat kepala. Banyak ikhwan yang melintas di seberang tangga. Aku menahan wajahku mendongak. Aku masuk dan mengikuti kajian hari itu dengan rasa ingin tahu pembahasan lanjutan, dari materi yang akan dibahas dengan topik ” Jodoh, aku datang dengan doa”. 
Kajian selama dua jam pun berjalan dengan sangat baik dan menarik bagiku dan teman-teman. Kami saling membahas dalam perjalanan pulang. Sengaja hari itu kami pulang kajian berjalan kaki, karena tidak jauh dari masjid ke kosku. Seseorang menyapaku dari samping.
“Mbak Fajri, Assalamualaikum.” Sapanya
“Waalaikumsalam”. Sapaku kemudian sambil melihat yang menyapa
Ternyata Farhan, bagaimana pula bertemu kembali dengan dia? Aku bertanya-tanya dalam hati. 15 menit obrolan kami sambil berjalan pulang. Aku positif thingkhing saja, Allah telah memberi pertemuan yang baik antara sesama sahabat. 
Suatu malam ada sebuah chatt singkat dari Farhan  yang isinya:
“Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuh, Mbak Faj saya langsung saja pada tujuan mengirim pesan ini. Saya berniat ingin mengkhitbah mbak dengan proses ta’aruf. Besok saya akan mengurusnya melalui murobbi saya, jika mbak setuju menjadi pendamping hidup saya.” Isi pesan dari Farhan.
“MasyaAllah, apa ini? Pikirku kemudian. Farhan mengajakku menikah, sudah yakinkah dia dengan pilihannya? “banyak pertanyaan dalam benakku.
Pesan chattnya ku tangguhkan, tak kubalas. Aku berusaha ingin segera mendiskusikannya dengan Murobbiku. 
Keesokan harinya tepat pada kajian halaqah mingguan, aku berusaha membicarakan ini pada Kak Nur Salamah murobbiku. Setelah panjang lebar kami membahasnya, akhirnya ku setujui proses ta’aruf ini. Aku menyusun proposal dalam proses ini, kemudian diajukan oleh murobbiku kepada murobbi Farhan.
Hal lain yang kupikirkan sebab aku juga sudah menyelesaikan studiku di kampus. Ah, mungkin saja Allah memberikanku waktu untuk bisa istiqoroh lebih dulu. Malam itu ku tunaikan niatku untuk istiqoroh  mohon petunjuk Allah. Hatiku mantap untuk melangkah dengan Farhan. Berharap yang terbaik, impian terbaik dan masa depan terbaik.
Tepat pada Juni 2016 aku melayangkan proposal taarufku, begitupun Farhan. Setelah melalui berbagai proses taaruf. Kami diperkenankan untuk memberitahu kedua orangtua kami. Setelah panjang lebar nasihat murobbi kami, kuberanikan diri mengatakan pada ayah dan ibuku.
Awalnya mereka terkejut, mana mungkin anak kecil sepertiku sudah bisa membina rumah tangga?kata Ibu. Benar nyatanya, orangtua yang selalu sayang pada kita, selalu menganggap kita bak anak kecil yang masih senang berlarian ke sana kemari. 
Aku berbisik dalam sejadah malamku, akankah harapanku nyata terwujud? Atau hanya kan menjadi bayang-bayang semu saja. Berkelakar lagi kalau pertanyaanku demikian. RobbMu telah banyak memberikan nikmat kehidupan yang luar biasa, proses perjalanan kehidupan yang amat berliku-liku tapi memberi makna dan pelajaran yang nyata. Aku merayu dalam syahdunya kalimat dzikir yang kulantunkan, perlahan air mata ini terus saja mengecoh hatiku. Aku menyeringai menatap masa hadapanku, harusnya aku hadapi semua dengan senyum. Ya, semoga aku tangguh hadapi semua hal yang berlaku.   
Benar adanya ayah dan ibu menolak permintaan restuku untuk menikah dengan Farhan. Banyak alasan yang melatarbelakangi penolakannya. Aku masih berusia 22 tahun dan farhan 23 tahun. Ditambah dengan pahitnya Farhan belum lulus kuliah. 
“Mau makan apa setelah menikah” ujar ayah mendengar pernyataanku.
Aku terdiam, bisu bak lembayung sendu. Merenung dengan yang baru saja aku katakan. Dosakah aku meminta restu mereka? Tidakkan? Sudah sewajarnya anak meminta restu orangtuanya dalam keinginannya. 
“Tidak, ayah tidak merestuimu menikah dengan laki-laki yang belum jelas masa depannya!” seru ayah seraya pergi dari hadapanku dengan  membanting pintu.
Deg, aku diam. Mataku nanar, nadiku nyeri tak beraturan. Urat syarafku terasa sangat ngilu. Ah...aku terlalu cengeng. Aku merayu ibu, tapi ibu tetap bersikeras seperti ayah. Aku beranjak ke kamar, mengadu pada diaryku. Hanya itu yang mampu kulakukan. Aku belum tangguh menghadapi ujian Allah saat ini. Pikirku demikian.
Keesokan harinya, aku dapatkan raut tak suka melihat dari ayahku padaku. Ku lihat ibu yang serasa memasang raut masam padaku. Ah tak enak sekali untuk kupandang. Aku berlari ke rumah Rasti teman kecilku, lama aku bercerita dengan Rasti. Cukup menenangkan, tapi belum menentramkan perasaan hatiku yang berkecamuk.
Aku mengirim pesan pada murobbiku kak Nur Salamah, beliau memahami sekali isi hatiku. Kemudian ia menyarankan untuk membatalkan proses taaruf ini. Karena, restu orangtua adalah hal utama dalam membina rumah tangga. Aku terdiam, baru saja aku ingin menggapainya tapi aku harus melepasnya.
Tepat Oktober 2016, aku dan murobbiku sudah memberikan pernyataan membatalkan proses taaruf ini. Mungkin Farhan kecewa sekaligus marah padaku. Tapi, aku tengah dihadapkan pada pilihan yang amat sukar. Aku tak mampu melawan kegundahan dan kekecewaan orangtuaku, aku belum mampu melihat air mata mereka berlinang karena kerasnya hatiku. Aku percaya Allah telah mengirimkan jodoh terbaiknya untuk kami. 
Semenjak itu Farhan tak menghubungiku lagi, putus komunikasi kami. Sekali lagi ku katakan. Mungkin ia kecewa. Tapi aku salah kali ini, ia tidak kecewa. Bahkan ia lebih tangguh dari aku. Di bulan Desember 2016 datang padaku sepucuk surat undangan pernikahan.
Ah, bercanda saja. Awalnya aku berpikir demikian. Setelah kubaca lebih lanjut, benarkah Farhan akan menikah di tahun ini? Mataku tak kuasa menahan air mata, hatiku amat nyeri tak tertahan rasanya, aku mulai menyerah, hilang angan dan harapan.
Aku sadar, aku seharusnya sudah mengikhlaskan. Bukankah Allah sudah memberikan yang terbaik untuk kami? Aku tak banyak berbuat, kuletakkan surat undangan dari Farhan di atas meja tv. 
Aku bergegas ke kamar. Tak ingin kuhiraukan perkara undangan itu lagi. Tak lama hpku bergetar, ada pesan masuk. Kuraih hp itu dan kubaca pesan yang baru saja masuk. 
“Assalamualaikum Mbak Faj, mohon maaf sebelumnya. Sengaja kukirimkan undangan kepada mba Faj. Jika berkenan, sile hadir ke acara saya.mohon maaf atas segala kelemahan hati yang belum mampu memberi kebahagiaan untuk Mbak sebelumnya. Mungkin Allah sudah memberikan yang terbaik untuk masa depan kita. Tak perlu sedi ataupun gundah. Segala yang kita hadapi sudah bagian dari skenario Allah swt.” Pesannya demikian.
Aku kembali terdiam. Aku peluk sajadahku dengan erat. Aku mencoba bertahan di atas lautan ini. Pelabuhan yang kutuju akan sangat jauh, mungkin butuh usaha dan doa lebih kuat. Dengan tetesan demi tetesan rintik gerimis dari pelupuk mata. Aku tekadkan, aku harus belajar istiqomah mempertahankan keistiqomahan hatiku menjaga segalanya, termasuk perkara hati.
Cinta tak selamanya harus kita miliki, cinta yang terbaik adalah cinta yang datang dari Allah tanpa menghirup aroma percintaan sebelum menikah. Benar nyatanya, percintaan yang halal hanya dimiliki setelah menikah bukan sebelum menikah. Kasih tak sampai, jalanan panjang ini tak berujung, pelayaran ini tak sampai pada pelabuhan yang kutuju. Aku berulang merayu dalam tiap doa dan sejadahku, aku ingin mendapatkan jodoh terbaik dari Allah tanpa penghalang restu dari orang tuaku lagi. Aku mulai terus memperbaiki keistiqomahanku dan lebih merapatkan barisanku dalam tuntunan Robbku.
Selesai.

Siti Andrana merupakan penggiat sastra serta guru bahasa Indonesia di SMA Bazma

 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar