Pewaris Sultan Siak XIII Usulkan Tugu Sultan Siak dan Musyawarah Adat Se-Riau

Selasa, 12 Oktober 2021

Foto : Sultan Syarif Qasim XII

Pekanbaru,  seputarriau.co - Bersempena peringatan HUT Kabupaten Siak ke - 22, pada kesempatan ini langsung disampaikan oleh pewaris Sultan Siak ke XIII yaitu Tengku Nazir, mengenai masa depan kesultanan Siak Sri Indrapura, (Selasa, Okt 2021).
Dalam mengenang jasa Sultan Syarif Qasim XII sejak menyatakan bergabung secara administrasi menurut fakta dan yuridis kepada NKRI dan merupakan fakta  sejarah bahwa kerajaan Siak masih ada.


Menurut undang-undang pelestarian adat dicanangkan Kelestarian adat istiadat daerah ini. Perlu diketahui, dahulu Sultan Siak tak pernah menyatakan bahwa tak ada lagi keberadaan Sultan ini, sebab seorang Sultan itu beliau mengangkat sumpah bertanggung jawab terutama kepada rakyatnya, sedangkan pada saat itu negara NKRI baru saja berdiri setelah dijajah selama tigaratus lima puluh tahun.

Sehingga sangat tidak masuk akal dan tak mungkin bisa diterima secara hukum jika seorang Sultan menyerahkan kedaulatannya begitu saja tanpa (MOU) kepada Republik Indonesia yang belum jelas masa depannya. Apalagi modal awal berdirinya negara ini dibantu oleh Sultan, bahkan belum pernah ada seorang pun yang berkorban seperti Sultan Siak, termasuk hasil alam dan kekayaan alam ini yang hanya dititipkan sementara kepada Republik ini.

"Jadi pemerintah jangan sampai memelintirkan seolah menjadikan para ahliwaris itu musuh mereka. Tapi kenyataannya begitu, pemerintah Siak dan pemerintah daerah terkesan menganggap ahliwaris waris itu musuh", pungkas, Tengku Nazir.

Disebabkan mereka telah merasa ketakutan telah berbuat salah selama ini kepada ahliwaris kesultanan Siak dengan menelantarkan hak-hak mereka. Pemerintah daerah justru telah bermufakat kepada kerabat, padahal yang disebut kerabat itu adalah sebenarnya ahliwaris yang telah diabaikan. Maka malah ternodai dengan tidak mengenang jasa para pahlawan yang mendirikan negara ini. Ini dapat dikatakan suatu bangsa yang buruk terhadap rakyatnya.

Ditambahkannya, bahwa bergabung nya kesultanan Siak ini ada kesepakatan hitam diatas putih sebentuk MOU antara Republik ini dengan pihak kesultanan Siak.

"Jadi kekayaan alam Riau yang sangat kaya ini, sebenarnya dikelola oleh Riau sendiri. Sekarang malah rakyat Riau ini terus diperbodoh sepanjang berjalannya pemerintahan Republik ini melalui pengaburan sejarahnya, hanya dianggap diangkat sebagai Pahlawan saja pribadi Sultan dengan mengesampingkan jasanya", tegasnya.

"Kita minta dibuatkan tugu satu-satunya bagi Sultan ini mengingat adalah Sultan yang terbesar rasa sumbangsihnya terhadap berdirinya Republik ini", ujarnya.

Riau ini dikatakan beradat dan bermarwah, jika memang begitu kenyataannya seharusnya dapat mengadakan musyawarah besar dengan dibentuknya panitia adat guna menyongsong siapa calon pewaris yang Sah.

"Jangan hanya berargumen dan saling menyalahkan, bila dianggap tidak ada yang benar maka marilah waktu nya kita menunjuk satu orang untuk duduk menjadi Sultan, Siak" timpalnya.

Alasan kenapa nasib Riau selalu dalam kecamuk disebabkan pewaris nya selalu ditekan-tekan dan dihalangi langkah nya. Malahan justru mendukung orang yang tidak ada kapasitas dan legalitas.

"Saya mengklaim diri saya sebagai pewaris Sultan Siak ke XIII berdasarkan alat bukti yang saya miliki, saya siap beradu data kepada pihak siapapun dengan mengajak pembentukan panitia adat, dan apabila pihak lain tidak dapat membuktikan secara hukum maka kita bersama  - sama masyarakat adat Melayu kita ini, mengakui Tengku Nazir sebagai pewaris yang Sah. Secara hukum Republik ini sudah ada aturan mengenai Sultan, tata cara bagaimana aturan penabalan seorang Sultan, dengan munculnya  fenomena penobatan Sultan lainnya.

Dan saya mengajak masyarakat Riau untuk bersatu mengangkat tuan rumahnya sendiri, meskipun hanya dijadikan lambang atau maskot, setidaknya adat istiadat dan Trah kesultanan ini hidup kembali. Sehingga barulah masyarakat Riau akan merasa bertuan di negerinya sendiri. Karena selama ini tuan rumah sengaja ditekan agar tidak bangkit oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.

"Kekacauan di dalam kecamuk Riau ini disebabkan Riau tidak ada tuan rumahnya,   maka masuklah para maling bekerjasama dengan oknum pejabat mengeksplorasi hasil alam Riau, mengenai oknum yang bekerja sama bersama pejabat adalah oknum ahliwaris yang (KW) supaya lancar jalannya perampokan negeri Riau ini",tambahnya.

Selanjutnya T. Nazir menambahkan, ternyata kesultanan Siak tidak pernah berperang kepada Republik ini, inilah alasan kuat bahwa masih ada penerus Sultan Siak, jika ada yg berpendapat tidak ada Sultan lagi maka mesti melalui perang dulu sebab pewaris Sultan tak dapat dihilangkan begitu saja, mengingat jasa beliau dimana justru telah berjasa yaitu jika tanpa pengakuan dari Sultan Syarif Qasim sendiri, kemerdekaan Republik Indonesia tidak diakui oleh Belanda dan Inggris saat itu. Dengan kenyataannya bahwa kerajaan Siak saat itu adalah kerajaan yang besar  dan mendunia.
Terkait tentang keraguan dalam masyarakat Melayu mengenai maklumat sumpah Sultan Siak, bahwa Sultan menyumpahi bagi yang ingin jadi Sultan setelahnya, hal itu adalah pernyataan yang dibuat - buat dan pemahaman yang keliru tanpa konsultasi terlebih dahulu kepada pihak pewaris. Sebab itu dianggap pewaris Sultan XIII atas statemen pihak Siak Herritage Fondation tersebut memutarbalikkan fakta sebenarnya atas dasar justru mencoreng nama besar seorang Sultan Siak. Dimana Sultan Siak bahkan berjuang demi berlanjut nya kesultanan hingga kiamat demi kemakmuran rakyatnya. 

" Di pandang mata dunia cuma ada dua perjanjian, pertama yaitu Straktat London (Inggris) antara kerajaan Siak dengan Inggris, dan yang kedua disebut Straktat Siak yaitu antara Belanda, Inggris dan kerajaan Siak tentang pengakuan dunia tentang kebesaran wilayah Siak dimata dunia", tegasnya.

Ditambah lagi pemikiran pokok yang mesti diambil yaitu dimana tanggung jawab Sultan Siak SSQ XII kepada ahliwaris nya, dan perlu ditimbang bahwa tentang kebutuhan pribadinya baik secara jasmani maupun rohani.

Jika dianggap Sultan Siak menyerahkan seluruhnya itu tak dapat diterima oleh pihak manapun bahkan orang kurang waras pun takkan mau bertindak seperti itu. Ditambah lagi di seluruh dunia manapun tak ada aturan bahwa ada seseorang yang menyumbang itu dengan cara memberikan semuanya itu tak pernah terjadi.

"Perlu diketahui bahwa kedaulatan Siak bukan hak milik Sultan Syarif Qasim, kedaulatan itu milik rakyat Siak. Bila ditinjau dari leluhurnya dimana tanggung jawab kepada Sultan Siak pertama sejak dahulu bertumpah darah sehingga begitu saja menyerahkan kedaulatannya tanpa harus melalui jalan peperangan, ini yang mesti dipahami oleh anak jati Melayu ", pungkas T. Nazir.

Sebagai penutup, Tengku Nazir menyampaikan, alangkah bodohnya masyarakat kita mengakui orang yang tidak punya legal formal/legal standing tanpa memiliki surat yang absah, tentang keaslian silsilah nya. Siapapun yang hendak berbuat kekacauan mengenai hal ini justru menerima kualat sebab Sultan itu memberi mandat kepada datuk saya, " tutupnya.

(Mulyadi).