Terkait aksi protes Peresmian RTMJ di Duri, LAM Riau Minta Semua Pihak Dapat Menahan Diri

Foto : Datuk Seri Syahril Abubakar
PEKANBARU, seputarriau.co - Terkait aksi protes terhadap peresmian Yayasan Raja Tawar Mula Jadi (RTMJ) di Duri, Kecamatan Mandau, Kabupaten Bengkalis, Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau, meminta semua pihak dapat menahan diri. Dengan niat baik semua pihak, diyakini bahwa masalah tersebut akan dapat diselesaikan dengan baik.
 
“Perkara ini menjadi sulit karena pemilik bangunan secara pribadi mengingkari kesepakatannya dengan LAMR untuk tidak menjadikannya sebagai pusat kegiatan RTMJ,” kata Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (Ketum DPH) LAMR Provinsi Riau, Datuk Seri Syahril Abubakar, dalam rilis yang diterima redaksi, Senin lalu 5 Maret 2018.
 
Seperti diketahui, ratusan orang dari berbagai organisasi Melayu dan Sakai yang berhimpun dalam LAMR Mandau, memprotes rencana peresmian RTMJ, Sabtu 3 Maret 2018. Aksi ini berjalan tertib, apalagi Pemerintah Kabupaten Bengkalis dan kepolisian, akhirnya memfasilitasi protes tersebut seperti mencabut izin keramaian yang sempat diberikan kepada RTMJ.Bahan yang diperoleh LAMR, lanjut Syahril, menyebutkan bahwa bangunan yang disebut sebagai Yayasan RTMJ dengan menggunakan sebagian arsitektur etnis Batak, memperoleh izin sebagai rumah pribadi. 
 
Dengan demikian, fungsinya adalah rumah tempat tinggal, tidak untuk kantor, apalagi disebut-sebut mewakili suatu simbol komunitas tertentu.Berdasarkan hal itu pula, tentu pemilik bangunan tersebut diminta tidak melanjutkan kegiatannya yang tidak sesuai dengan izin mendirikan bangunan (IMB). 
 
“Kalau mereka konsisten dengan IMB itu kan tidak mungkin ada protes dari berbagai elemen masyarakat di Mandau sana, khususnya Melayu,” kata Syahril.Tidak hanya sampai di situ. Keberadaan IMB itu harus dikawal terus, sehingga tidak terjadi penyimpangan atau penyalahgunaan IMB. “LAMR Provinsi Riau minta pada LAMR Mandau untuk dapat melaksanakan hal itu,” ujar Syahril lagi.
 
Perhatian SeriusTanpa menyimpang dari IMB itu saja, RTMJ patut bersikap bahwa apa yang mereka lakukan tidak sesuai dengan pergaulan kebhinekaan. Sebab mereka seharusnya memandang situasi dan kondisi masyarakat tempatan saat melakukan sesuatu.Di sisi lain, Syahril menilai, memang ada indikasi penyimpangan IMB yakni dari rumah pribadi menjadi pusat komunitas secara permanen, sehingga menimbulkan gejolak di Mandau. Seandainya penyimpangan IMB tidak ada, tentu saja gejolak terebut tidak ada. Oleh karena itu, patut apabila penyimpangan itu diselidiki bahkan perlu mendapat perhatian serius.
 
Apalagi indikasi penyimpangan IMB tersebut, lanjut Syahril, membawa-bawa nama Suku Batak, padahal pagayuban keluarga besar Batak tidak dilibatkan dalam program RTMJ itu. Kemudian, sejumlah oknum berusaha mengesankan adanya ketidakharmonisan antara berbagai elemen masyarakat Mandau terutama Melayu dan Sakai dengan Batak melalui media sosial. 
 
Hal ini kalau tidak ditangani serius, dapat menimbulkan hal-hal yang tidak diingini.Tentu saja, berbagai pihak diharapkan tidak terpancing dengan keadaan ini, sehingga dapat menahan diri. “LAMR akan berusaha menciptakan situasi kondusif di semua wilayah Riau ini termasuk di Mandau,” ujar Syahril.
 
Lebih lanjut Syahril mengatakan, LAMR memberi apresiasi tinggi kepada berbagai pihak seperti Pemkab Bengkalis dan Polres Bengkalis yang telah menangani aksi protes terhadap RTMJ itu dengan baik, sehingga tidak memunculkan masalah lain. “Untuk itu kami mengucapkan terima kasih,” katanya.
 
(MN/ MCR)


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar