Hari Santri Nasional

Dengan Pendidikan Agama dan Etika, santri Tumbuh dengan Akhlak Mulia

Foto : Ribuan Santri Ikutin Apel Hari santri Nasional dihalaman Kantor Gubernur Riau, Jl Sudirman

PEKANBARU, seputarriau.co - Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman sampaikan dihadapan ribuan para santri dari pondok pesantren (ponpes) Se-Provinsi Riau Beri Motovasi Santri dalam  menunjukkan eksistensi diri dan ikut memberi sumbangsih bagi Riau khususnya dan Indonesia pada umumnya. Karena sudah terbukti dari sejarah, banyak tokoh nasional lahir dari lingkungan Ponpes.

Apel Akbar Hari Santri Nasional diadakan di Halaman Kantor Gubernur Riau, Pekanbaru pada Kamis (6/10) lalu. Acara ini dihadiri 4.000 lebih santri dari 12 kabupaten/kota di Riau.

Dihadapan Para Undangan dan di depan menteri Tenaga Kerja RI Gubernur Riau, Arsyadjuliandi Rachman sampaikan "Hal ini menunjukkan eksistensi santri dalam dunia politik dan kepemimpinan di Indonesia. Ini harus jadi motivasi bagi para santri di Riau untuk terus membangun Indonesia lebih maju ke depannya tanpa lupa akan pendidikan agama,"kata Gubernur Riau Arsyadjuliandi Rachman.

Perubahan global begitu cepat terjadi saat ini. Gubernur mengajak santri menanggapinya dengan positif dan tetap mengikuti perkembangan zaman, terlebih pesantren sekarang banyak yang sudah berbasis teknologi.
"Santri juga dituntut menjadi agent of change (agen perubahan). Di zaman persaingan global ini, santri harus bisa menyelaraskan ilmu pengetahuan teknologi (IPTEK) dan tetap menjadi pribadi muslim yang beriman dan bertaqwa,"katanya.

Ditetapkannya hari santri nasional pada 22 Oktober 2015 lalu oleh Presiden Jokowi menuai banyak rasa syukur berbagai kalangan, khususnya dari para santri dan mantan santri yang kini berkiprah di berbagai bidang dalam mendukung pembangunan di tanah air.

Ponpes kini bisa jadi garda depan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Santri berperan dalam kemerdekaan Indonesia.

Pangeran Diponegoro adalah santri. Banyak santri-santri lainnya yang berjuang membela kemerdekaan Indonesia dari penjajahan di masa lalu. Termasuk KH. Hasyim Asyari selaku pendiri Nahdatul Ulama (NU). Beliau adalah tokoh pesantren yang moderat, pemikir Islam yang tak mau dibujuk penjajah dan tetap teguh memperjuangkan Indonesia merdeka.

Ada yang menganggap pesantren sebagai sarang teroris pada saat ini. Itu adalah pendapat yang benar-benar salah dan wajib kita lawan melalui gerakan santri nasional, katanya lagi.

Sistem pendidikan pesantren memiliki banyak peluang dan kesempatan yang lebih bagi anak bangsa karena kegiatan didalamnya banyak sekali hal-hal positif dibanding sekolah biasa pada umumnya. Berbagai aktivitas dan peraturan yang tersusun secara kompleks dan efisien menunjukkan bahwa sesungguhnya Indonesia dapat menjangkau nilai-nilai moral dan integritas yang memadai.

Seperti pengajian Al-Qur'an, pengajian kitab, ekstrakulikuler, sekolah berjenjang, kompetisi antar-madrasah, pertukaran pelajar, dan masih banyak lagi. Jika diisi dengan banyak kegiatan positif tersebut, waktu yang tersisa tidaklah sia-sia.

"Para santri berpotensi memberi pengaruh besar terhadap bangsa ini. Kita berharap, santri, dengan karakteristiknya yang mandiri, cinta ilmu, pengabdi, pejuang, ulet, sederhana, bersahaja, dan lainnya, bisa menjadi modal untuk melahirkan tokoh-tokoh besar yang tak hanya memiliki kedalaman ilmu agama, namun juga semangat membangun bangsa dan komitmen pada kehidupan yang penuh kedamaian," tandas gubri.

Sementara itu, Menteri Ketenagakerjaan RI, M Hanafi Dahkiri,  yang turut hadir pada saat itu menyebutkan santri harusnya merasa bangga karena banyak pejuang Indonesia yang berlatar belakang dari pondok pesantren. Menteri yang menghabiskan masa mudanya di pesantren ini juga mengajak kepada para santri untuk senantiasa bangga sebagai santri. Pasalnya, sejarah republik ini menunjukkan bahwa santri dalam hal ini Nahdlatul Ulama  dengan pemahaman Islam ahlussunah wal jamaah-nya telah memberi kontribusi pada berdirinya bangsa ini, jauh sebelum Indonesia merdeka.

"Kita harus bangga sebagai santri. Kenapa bangga, Indonesia mungkin tak bisa seperti saat ini kalau tidak ada pondok pesantren. Dimana bersama kiayi dan santrinya yang telah berjuang melawan penjajah. Banyak pahlawan kita sesungguhnya berlatar belakang pondok pesantren," ujar Hanafi kala itu.
Tidak hanya berjasa dalam kemerdekaan, berkat pondok pesantren juga telah berkontribusi mencerdaskan bangsa sebelum zaman kemerdekaan. Tidak sedikit para pejuang dan tokoh-tokoh nasional berasal dari pondok pesantren.

Hanya saja dari catatan sejarah, terkesan 'menyembunyikan' latar belakang kesantrian banyak tokoh pejuang, dalam membela harga diri bangsa dari penjajah. Sebut saja Pangeran Diponegoro, yang selama ini hanya dikenal sebagai keturunan bangsawan dan terpandang.


(ADV/ Humas Pemprov Riau)
 


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar