Harga Minyak Dunia Anjlok Dipicu Kekhawatiran Kelebihan Pasokan

NEW YORK, seputarriau.co - Harga minyak dunia turun pada Senin (11/7), tertekan kekhawatiran tentang kembalinya kelebihan pasokan global ke depan dan penguatan dolar AS.

"Pasar minyak tetap defensif setelah penurunan harga pekan lalu menanggapi fundamental lemah saat ini, termasuk sejauh mana peningkatan produksi OPEC dapat menunda rebalancing yang dinanti untuk keseimbangan pasokan atau permintaan global," kata Tim Evans dari Citi Futures.

Harga patokan AS, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus turun 65 sen menjadi berakhir pada 44,76 dolar AS per barel di New York Mercantile Exchange. Kontrak WTI merosot sekitar tujuh persen selama seminggu sebelumnya. Di London, minyak mentah Brent North Sea untuk pengiriman September, patokan global, menetap pada 46,25 dolar AS per barel, turun 51 sen dari penutupan Jumat (8/7).

Para pedagang masih bereaksi terhadap penurunan lebih kecil dari perkiraan dalam persediaan minyak mentah komersial AS pekan lalu dan kenaikan jumlah rig minyak aktif di AS. "Mereka benar-benar mengabaikan fakta bahwa di AS, ada penurunan besar dalam produksi. Jadi kita memiliki situasi di mana masih ada beberapa sentimen penghindaran risiko yang mengakibatkan pasar lebih rendah," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas di TD Securities.

Laporan Baker Hughes pada Jumat (8/7) tentang jumlah rig pengeboran aktif di Amerika Serikat, barometer aktivitas produksi di masa depan, menunjukkan kenaikan sebesar 10 rig pada pekan lalu menjadi 351 rig, kenaikan kelima dalam enam minggu. Pada saat yang sama tahun lalu, pengebor memiliki 645 rig minyak yang beroperasi. "Ini adalah kenaikan kecil," kata Melek.

Analis Commerzbank juga mencatat pasar minyak kembali ke sentimen negatif, mendorong harga lebih rendah. "Hanya beberapa minggu lalu, pelaku pasar masih melihat hampir secara eksklusif faktor-faktor yang mendukung harga. Sekarang mereka tampaknya hanya memiliki faktor-faktor bearish lagi. Ini termasuk peningkatan aktivitas pengeboran AS dan dolar AS yang lebih kuat," ujar analis itu.

(MN/ Antara)


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar