Terdapat Permasalahan Dalam Mengelola Sawit di Riau

Foto : Ilustrasi minyak kelapa sawit
PEKANBARU, seputarriau.co - Riau tidak bisa berbangga hati dengan hampar luar kebun sawit yang dimiliki, jika nilai tukar dari komoditi itu tidak pernah menjadi prioritas untuk dikembangkan. Menurut Ekonom asal Universitas Riau, Prof Dr Almasri S, melihat kondisi ini sudah selayaknya Pemerintah Provinsi Riau memaksimalkan nilai tambah dari hasil kebun sawit itu untuk meingkatkan perekomonian masyarakat.
 
"Langkah yang harus segera dilakukan adalah dengan membangun hilirisasi desektor sawit. Padahal Riau memiliki potensi sawit yang sangat besar," terangnya.
 
Ada cara yang salah yang dia lihat dari sistem pengolahan hasil perkebunan sawit di Riau ini. Masyarakat kecil yang menggantungkan hidupnya pada kebun kelapa sawit, hanya sebatas menikmati Tandan Buah Segar (TBS) saja.
 
Dengan pola seperti itu saja, indeks kesejahteraan masyarakat saja sudah menyentuh angka 27 persen lebih. Dan hampir setiap tahunnya mengalami peningkatan. Namun demikian, hasil CPO dari pengolahan TBS tersebut dinikmati oleh perusahaan pengiolah. Yang kemudian bahan setengah jadi itu diproses di luar negeri dan hasilnya kembali dikonsumsi oleh masyaakat Riau.
 
"Nilai tambah yang mencapai 200 hingga 300 persen. Dan hasilnya orang asing yang menikmati," tambahnya. "Karena CPO di ekspor dalam jumlah yang besar ke luar negeri,".
 
Kondisi seperti itulah, menurut Almasri, mengapa nilai tambah dari sawit Riau tidak maksimal. Padahal jika pemerintah segera membangun hilirisasi untuk komuditi itu, kemungkin besar, harga TBS sawit di Riau tidak terlalu mengandalkan harga pasar.
 
Padahal, peluang bagi Pemerintah Provinsi Riau sendiri untuk mengembangkan potensi tersebut sangat terbuka lebar. Agar perputaran uang lebih tinggi di Riau, ketimbang di luar negeri. Pemerintah Provinsi Riau juga diminta serius untuk mengembangkan sejumlah kawasan industri di Riau agar bisa menjadi pusat produksi sumber daya alam yang ada di Riau. Mislanya kawasan industri tanjung buton, pelabuhan Kuala Enok dan Dumai.
 
Kawasan-kawasan tersebut menurutnya memiliki potensi luar biasa untuk bisa dikembangkan hilirisasi. Dengan demikian, para investor akan tertarik untuk menggarap kawasan itu sebagai tempat pengembangan hilirisasi sawit di Riau.
 
 
 
(IS)


[Ikuti Seputar Riau Melalui Sosial Media]






Tulis Komentar